29
Aug
09

Idealisme ala Hegel

Oleh: Arinto Nurcahyono

Idealisme Jerman memuncak pada Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Karyanya yang paling monumental berjudul Phänomenologie des Geistes (Fenomenologi Roh) yang diterbitkan tahun 1807. Penamaan Phänomenologie diberikan karena merupakan presentasi tentang penampakkan benda-benda di dalam kesadaran kita dan tentang bentuk-bentuk kesadaran itu sendiri. Akan tetapi kesadaran di sini tidak dilihat terpisah dari objek, karena keduanya sebenarnya merupakan penampakan dari yang absolut yang merupakan realitas yang paling real. (Hardiman, 2002: 2).

Pengantar dari Phänomenologie merupakan teks yang termasyur dalam bidang epistemologi. Di sana Hegel mengkritik teori pengetahuan yang didominasi oleh Kantianisme, kemudian Hegel mengajukan pendiriannya dan menetapkan prasyarat-prasyarat ilmu pengetahuan tantangan pengalaman kesadaran.

Hegel memulai alinea pertama “Pengantar”nya dengan sebuah diskusi tentang “sikap natural” (natürlische Vorstellung) di dalam tradisi filosofis yang dominan di zaman Hegel. Sikap natural atau kebiasaan berpikir yang tidak dikaji tersebut mengacu pada pemahaman umum filosofis yang lazim di dalam  filsafat modern  dan memuncak pada filsafat kritis Kant. Sikap natural itu menyangkut sebuah asumsi bahwa ada suatu kenyataan yang berdiri di luar pikiran kita, dan tugas filsafat adalah meneliti kenyataan  semacam itu secara mendalam dan mendasar. (Hardiman, 2002: 3 dikutip dari Graeser, 1993: 25-26). Namun sebelum filsafat melaksanakan tugasnya, demikian diandaikan sikap natural itu, orang harus secara kritis menyelidiki lebih dahulu kemampuan pengenalan (Erkenntnisvermügen) kita. Dengan syarat inilah pengenalan dapat dibayangkan “…sebagai alat yang dipakai untuk menguasai yang absolut, atau sebagai sarana yang dipakai untuk  melihat …”. (Hardiman, 2002: 3 dikutip dari Hegel, 1988: 57). Melalui pemahaman  instrumentalis ini pengenalan dimengerti sebagai upaya untuk menciptakan relasi antara kenyataan, yakni yang absolut dalam kosa kata Hegel, dan yang mengetahui. (Hardiman, 2002: 3 dikutip dari Roed, 1986: 128).

Menurut pandangan tersebut cara kerja dari alat pengenalan itu harus ditentukan sebelum dipergunakan untuk menetapkan  relasi antara subjek dan kenyataan, karena menurut Hegel “… without a more precise definition of its nature and limited, we might grasp  clouds  of error instead of the heaven of truth.” (“…tanpa menentukan secara persis ciri dan batas dari alat itu, kabut kesesatanlah alih-alih langit kebenaran yang akan ditangkap” (Hegel, 1977: 46). Di sini diandaikan bahwa pemakaian alat pengenalan dan mengubah kenyataan yang dikenalinya. Oleh sebab itu, pemakaian alat itu justru berlawanan dengan tujuannya. Kenyataan atau yang absolut yang akan dilihat lewat alat itu bagaimana pun tak dapat dikenali selain kenyataan yang dicetak oleh alat itu.

Hegel berpolemik melawan pandangan instrumentalis yang dalam filsafat modern dikenal sebagai epistemologi Kantian. Menurutnya, tugas kritik Kantian adalah mengecek fungsi dari instrumen pengenalan, supaya  orang dapat memisahkan tambahan-tambahan yang tak dapat terhindarkan dari subjek pengenalan dari isi objektif pengenalan itu. Namun tugas semacam itu menurut Hegel gila! Hegel lalu menjelaskan sebagai berikut. Andaikata cara kerja dari alat itu dapat diketahui, kita lalu dapat menyingkirkan bagian dari alat itu yang menghalangi pengenalan, sehingga sebagai subjek yang mengetahui kita dapat menerima kebenaran atau kenyataan pada dirinya (das Ding an sich) secara murni, seolah-olah kenyataan dapat ditangkap “seperti lewat pemikat burung”. Namun menurut Hegel perbaikan macam itu membawa kita kepada titik tolak kita sendiri. Kita akan kembali ke tempat kita berangkat, yaitu kita akan menemui masalah lagi yaitu masalah kenyataan pada dirinya sendiri yang tak dapat dikenali. Bagaimana orang dapat menetapkan cara kerja alat itu atau indeks pembiasan dari alat itu? Mungkinkan membandingkan kenyataan yang dibentuk oleh instrumen itu dengan kenyataan an sich yang tak dapat dikenali? Tanpa kemungkinan perbandingan itu kiranya perbaikan pengenalan pada dasarnya sia-sia. Dengan kata lain, pertanyaan tentang cara kerja dari instrumen itu tak dapat dijawab secara memuaskan. Sebagai akibat prasyarat bahwa kemampuan pengenalan atau sifat dari alat pengenalan  itu harus diselidiki terlebih dulu sebelum mengenali kenyataan di luarnya tidak dapat dipenuhi dan bersifat berlebih-lebihan. Pengujian Kantian itu menurut Hegel bergerak di dalam lingkaran setan. Dalam karyanya yang lain, Enziklopädie der philosophischen Wissenschaft, Hegel membandingkan prasyarat semacam  dengan prasyarat belajar renang sebelum terjun ke air. Renang itu hanya mungkin dengan mencebur ke dalam air. (Hardiman, 2002: 3).

Ada pun pemikiran yang ditawarkan Hegel sendiri berangkat dari apa yang disebut dengan konsep “kesadaran alamiah”. Kata kesadaran (Bewuβtsel) diartikan sebagai relasi suatu aku dengan objek. Namun kesadaran itu ditentukan dengan kata sifat “alamiah” (natürlich), Hegel mengartikan  sebagai sesuatu “yang mengikat” (das Bindende) atau “yang menentukan” (das Bestimmende) dan mengacu pada keadaan-keadaan, kebiasaan-kebiasaan, situasi-situasi dan seterusnya. Jadi kesadaran alamiah adalah kesadaran yang ditentukan oleh situasi keseluruhan masing-masing. Kesadaran itu bersatu padu dengan situasi sebagai keseluruhan itu, karena dia termasuk  di dalam situasi tersebut.  Dengan kata lain kesadaran alamiah merupakan suatau kesadaran yang tergantung pada situasi yang berubah-ubah dalam sejarah. Kesadaran merupakan sebuah fungsi dari sejarah pembentukan suatu situasi sebagai keseluruhan atau wakil dari tahap pembentukan masing-masing era. Kesadaran alamiah ini dapat dilukiskan  sebagai sesuatu yang oleh Hegel  disebut “jalan jiwa”. Dan sebagaimana dikatakan Hegel dengan mengacu pada Plato, jiwa mengembara melalui rentetan sosok-sosoknya yang memurnikan dirinya menjadi roh (Geist). (Hardiman, 2002: 3).

Kesadaran alamiah bergerak tahap demi tahap, tergantung pada proses dan bergerak niscaya dan bentuk penampakannya yang paling rendah, tak memadai, tak benar dan picik sampai pada bentuk penampakannya yang lengkap dan sempurna. Pada akhirnya tujuan sejarah  perkembangan kesadaran adalah di mana kesadaran itu tidak lagi perlu mengatasi dirinya sendiri. Lebih jelas lagi di mana konsep bersesuaian dengan objek. Dalam hal ini Hegel menekankan bahwa kebenaran hanya dapat ada dalam artinya yang penuh, bila subjek dan objek itu satu dan sama, dalam hal ini realisasi pengetahuan yang dicapai secara sempurna pada tataran idea. Kesatuan antara konsep dan realitas itulah  apa yang dimaksudkan Hegel, bila nanti dia menulis bahwa yang nyata itu masuk akal dan yang masuk  akal itu nyata. Dengan kata lain, kesatuan dan kesesuain akhir itulah apa yang disebut “pengetahuan absolut” yang dilukiskan Hegel sebagai tujuan tentang pengetahuan yang tampak. (Hardiman, 2002: 7 dikutip dari  Hegel, 1994: 62).

Di dalam proyek teleologis-historis kesadaran itulah kemudian  muncul apa yang dinamakan dengan Dialektika. Dialektika adalah proses yang terdiri dari tiga fase yakni tesis, antitesis dan sintesis. Di dalam sintesis itu tesis  dan antitesis menjadi apa yang dikatakan Hegel sebagai “Aufgehoben” (diangkat kepada taraf yang lebih tinggi). Yang dimaksudkan Hegel di sini bahwa dalam sintesis masih terdapat tesis dan antitesis, tetapi keduanya diangkat kepada tingkatan baru. Dengan perkataan lain, kebenaran dalam tesis dan antitesis  tetap disimpan dalam sintesis, tetapi dalam bentuk yang lebih sempurna.


0 Responses to “Idealisme ala Hegel”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: