22
Aug
09

Sekilas tentang Modernisme

Oleh : Arimto Nurcahyono

Kata modern menurut Hans Robert Jauss (1964) dalam sebuah artikel berjudul “Asthetische Normenund geschichtliche Reflecxion”, seperti dikutip Habermas yang menyebutkan bahwa istilah “modern”  berasal dari bahasa Latin “modernus” yang digunakan pertama kali pada akhir abad ke-5,  dan  digunakan sebagai batas sejarah, yaitu antara era Roma yang menyembah berhala (Pagan era) dengan era Kristen yang menyembah Tuhan. (Habermas, 1993: 98). Namun sayangnya penjelasan secara etimologi ini tidak menampakkan pengertian yang sesungguhnya dari modernisme itu sendiri.

Istilah modern itu sendiri menurut Featherstone, menegaskan arti yang bersifat epochal. Modernisme secara umum dipandang ada bersamaan dengan munculnya Renaissance dan didefinisikan dalam hubungannya dengan zaman kuno (Antiquity), sebagaimana yang tampak dalam perdebatan antara Ancients (Kuno) dengan Moderns (modern). (Featherstone, 2001: 6).

Munculnya Renaissance merupakan bantingan terhadap perspektif kebudayaan di Barat yang sama kerasnya dengan bantingan gambaran sistem planet tradisional oleh Copernicus. Renaissance menemukan serta menghargai kembali kebudayaan  pra-kristiani Yunani dan Romawi, tetapi tidak  dengan kembali ke alam kosmosentris mereka. Bagi Renaissance, alam Yunani dan Romawi membuka pandangan mereka tentang  manusia. Manusia  ditempatkan ke dalam pusat. Lahirlah humanisme dengan uomo universale, manusia universal, sebagai cita-citanya. Statika paham realitas sebagai tatapan alam semesta theosentris yang selaras diganti dengan dinamika perkembangan  di mana manusia sebagai subjek mengangkat kepalanya berhadapan dengan ciptaan lain. Manusia telah kehilangan kepolosannya sebagai salah satu warga alam raya. Ia tidak lagi memahami diri sebagai musafir yang untuk beberapa saat menjelajah dunia, sampai ia dipanggil kembali oleh Yang Menempatkannya di situ, melainkan sebagai homo faber, manusia yang melanjutkan dan meneruskan penciptaan dunia. Manusia  yang  melihat dunia sebagai tantangan dan tugasnya, yang semakin yakin bahwa ia harus memberikan bentuk dan capnya kepada dunia. Manusia bukan lagi salah satu substansi dalam dunia, melainkan sebagai subjek berhadapan dengan dunia. (Suseno, 1992: 62)

Ada kesepakatan dalam semua lingkungan pemikiran, bahwa modernisme merupakan satu kekuatan terbesar dalam sejarah. Satu kekuatan pemacu perkembangan peradaban umat manusia yang hampir tidak ada presedennya di masa lampau. Bumi yang hari ini dihuni adalah sebuah planet yang terus bergejolak dengan berbagai perubahan radikal, menghadirkan ketidakpastian  dalam sebuah krisis besar peradaban. Krisis yang konon  bahkan jauh lebih hebat daripada yang pernah terjadi pada Abad V sebelum Masehi yang sempat menghasilkan para rasul di Timur Tengah  dan para filsuf di Yunani. Krisis ini akhirnya justru memunculkan  semangat pencerahan pertama untuk melakukan demitologisasi. Modernisme telah membawa bagian terbesar umat manusia ke dalam sebuah realitas dunia yang tak terjangkau bahkan oleh mimpi-mimpi paling liar manusia “primitif”.

Radikal dan pesatnya perkembangan peradaban seperti itu, tak pelak lagi merupakan prestasi manusia yang berjejak panjang. Confusianisme, Budhisme, Ibrahimisme atau tafakur-tafakur etik para filsuf Yunani sampai sekarang tetap dianggap sebagai tonggak-tonggak pertama kegairahan umat manusia dalam memahami dunianya secara lebih rasional. Jika sebelumnya alam dianggap sebagai kekuasaan sejati di atas manusia, maka agama telah memperkenalkan konsepsi tentang Tuhan sebagai pemilik kekuasaan absolut atas segala  hal. Sementara alam adalah ruang bagi manusia untuk mewujudkan eksistensi keinsanannya. Subordinasi alam di bawah manusia boleh jadi bermula dari  sini.

Pendobrakan filosofis semacam itu pada gilirannya mengakarkan  bentuk  relasi subjek (rasio)-wacana-dunia. Manusia memahami dunia  di luar dirinya melalui wacana pengetahuan. Pada Socrates atau para filsuf yang lain, wacana pengetahuannya berupa kuriositas filosofis yang pertama-tama mencoba menggoyahkan fondasi keyakinan terhadap mitos-mitos tradisional. Sementara pada Ibrahim atau para rasul lainnya, wacana tersebut berupa seperangkat postulat transendental sebagai sebuah metode (rasional kritis) untuk mendobrak dogma-dogma kepercayaan pada benda-benda sebagai representasi Yang absolut. Puncak keragu-raguan  tersebut, boleh jadi  terjadi pada kesangsian yang dilontarkan René Descartes. Pada yang terakhir ini, seperti halnya pada diri Francis Bacon, keraguan diformulasikan menjadi sebentuk usaha investivigasi metodologis dalam memeriksa realitas dunia. Wacana pengetahuan telah berkembang menjadi ilmu pengetahuan tentang alam (ilmu alam). (Hikmat, 1997: 22).

Melalui proses modernisasi, berlangsung suatu peristiwa mutasi historis jagat raya. Kekhalifahan manusia, dalam arti sang penakluk vis a vis dengan alam semesta, semakin dikukuhkan. Pembenuman subjek manusia modern sebagai penakluk semesta ini secara implisit telah menggeser supremasi keyakinan teologis atas kemahakuasaan Tuhan dalam relasi-relasi kehidupan. Sebab jika Tuhan sudah terwakilkan, maka secara logis Ia boleh  tidak ada   dalam penyelenggaraan kehidupan dunia. Artinya manusia menjadi lebih bebas dalam merealisasikan kehidupannya tanpa campur tangan kekuatan lain di luar dirinya sendiri. Gaibnya Tuhan  justru berarti kesempatan  tak terbatas bagi   manusia  untuk menghidupi dunia. Manusia modern  menjadi subjek yang otonom karena terputusnya rantai ketergantungan  sekaligus ancaman keganasan alam raya. Secara sederhana inilah yang menandai mulai datangnya zaman “Pencerahan” (Aufklarung). Satu masa dalam sejarah ketika manusia hendak mengukuhkan klaim dirinya sebagai species yang telah menjadi dewasa dan merdeka, karena telah lepas dari buaian berbagai mitos tentang  rahasia dunia, yang membuatnya tidak pernah dewasa. Atau paling tidak, menjadi sadar akan keharusannya untuk memerdekakan diri. Telah datang satu zaman Pencerahan akal budi yang paling gilang gemilang menyinari sejarah peradaban umat manusia.

Sebagai ahli waris zaman Renaissance, filsafat zaman modern itu bercorak, “antroposentris” . Manusia menjadi pusat perhatian. Dalam zaman Yunani dan Abad Pertengahan filsafat selalu mencari  “substansi”, prinsip induk yang “ada di bawah” seluruh kenyataan. Para filsuf Yunani menemukan unsur-unsur kosmologis sebagai prinsip induk (arché). Bagi pemikir abad Pertengahan, Tuhan sendiri adalah  prinsip ini. Namun dalam zaman modern, peranan “substansi” diambil alih oleh manusia  sebagai “subjek”. Yang “terletak di bawah” seluruh kenyataan kita, yang memikul kenyataan, itu bukan suatu prinsip di luar kita melainkan kita sendiri. (Hamersma, 1990: 3-4)

Pencerahan dalam wacana filsafat modern, sebenarnya adalah sebuah proses “penyempurnaan” secara kumulatif kualitas subjektivitas dengan segala kemampuan objektif akal budinya dalam mencapai satu tingkatan sosial yang disebut dengan “kemajuan”. Keterputusan dari nilai-nilai mitos, spirit ketuhanan, telah memungkinkan manusia modern untuk mengukir sejarahnya sendiri di dunia – suatu proses self determinatioan.


2 Responses to “Sekilas tentang Modernisme”


  1. May 19, 2010 at 5:35 am

    Pak.
    Mohon bimbingan dong. Bisa minta pendapat bapak tentang zionis ga?
    makasih. Kalo bisa selengkap-lengkap nya ya pak. hehe .


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: