21
Aug
09

Mengais Jejak Langkah Anak Muda Fakultas Filsafat UGM era 80an

Memorium untuk temanku Andi Munajat
Oleh: Arinto Nurcahyono

Andi Munajat. Lalu kita tanyakan pada anak-anak filsafat tahun 80an, Jawabannya akan terucap yach, dia seorang aktivis. Sosok hitam yang berasal dari daerah yang pernah terkena bencana yakni Pangandaran Ciamis Jawa Barat. Berbicara sosok aktivis lalu gambaran yang muncul adalah sosok mahasiswa yang memiliki aras perjuangan.
Pada tahun 1987 saya adalah mahasiswa baru fakultas filsafat UGM, saya masih ingat pertama kali masuk pas tanggal 17 Agustus 1987. Sebagaimana kegiatan awal seorang mahasiswa baru adalah diwajibkan mengikuti penataran P4 Pola 100 jam. Gila 100 jam ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan pada saat itu begitu kuat sampai pada masuk pada wilayah indoktrinasi pada kalangan mahasiswa. Saya yakin sang Andi juga mengikutinya. Barangkali memang tidak punya pilihan lain untuk mengikutinya. Andi sendiri adalah kakak kelasku angkatan 1986. Soal penataran P4 jadi aku ingat sama mas Herlambang (Kalau ndak salah Ang 85) yang dia selalu bolong alias tidak mengikuti penuh kegiatan P4, akibatnya dia harus mengulang lagi dari awal pada tahun berikutnya berbarengan dengan angkatanku.
Suasana pada era itu memang terselimuti oleh kabut kekuasaan yang sentralistik, penuh dengan aroma nama Soeharto. Dan dari aroma yang berbau menyengat inilah tumbuh sosok-sosok anak muda yang melalukan perlawanan. Sebagaimana jiwa anak muda, terlebih lagi mahasiswa. Tampaknya menjadi sebuah keharusan sejarah bahwa setiap zaman pasti muncul orang-orang yang merasa gerah atas nasib bangsanya. Kegerahan mereka tak terkecuali hinggap pada sosok –sosk muda mahasiswa filsafat.
Pertama kali memasuki ruang kuliah fakultas filsafat aku merasakan adanya suasana keangkeran. Yach gedung pusat yang begitu megah dan konon yang diarsiteki Soekarno, memang menyambut aku dengan segala kekokohannya, kuliah di UGM. Sebelum memasuki ruang kuliah aku teringat melewati ruang yang namanya senat mahasiswa. Mataku disuguhi pemandangan yang terasa aneh bagi mahasiswa seperti aku, terlihat di dalam ruangan sosok muda berambut gondrong berkaca mata ala John Lenon yang sedang bermain gitar menyanyikan lagu Leo Kristi. dan yang khas adalah terlihat kumuh lalu aku bertanya dalam diriku sudah berapa hari dia ndak mandi. Aku sendiri tidak asing dengan lagu Leo Kristi karena bapakku punya kasetnya. Spontan saja pikiranku memunculkan pertanyaan inikah sosok yang namanya mahasiswa filsafat. Hal itu semakin menguatkan pengetahuanku jangan-jangan kalau sudah kebanyakan memori dijejali filsafat aku aku seperti dia. Di kemudian hari aku baru tahu sosok itu mahasiswa filsafat bernama Yayan Sopyan anak muda dari Kerawang Jawa Barat.
Jejak langkah dunia kampus ternyata bukan dunia satu dimensi, Bukan cuma urusan di bangku kuliah. Kaya warna, kaya pilihan, dan tentu saja kaya akan pemikiran. Kekayaan pemikiran disamping di ruang kuliah, kudapati ruang lain yang lebih cair, tak bersekat, dan dipenuhi manusia-manusia petualang. Mengantarkan pada dunia yang penuh petualangan memberi aku keluasan. Aku menapaki dunia itu berangkat dari pengenalan rekan-rekanku satu angkatan, dan pada perjalanku kemudian memberikan wajah diriku yang tidak hanya sosok mahasiswa yang berkutat pada persoalan kuliah.

Nama rekan seangkatan seperti Lukman cah Delanggu, Si Kriting Item Genot , Si Grondrong Bogel cah Malang, Satya Widodo, Agung cah Prambanan, dan Sylvi Maria cewek super aktif mengantar aku masuk pada orang-orang yang mewarnai kehidupan kampus.
Dalam dimensi ruang dan waktu tepatnya tahun 1987 dalam ruang fakultas filsafat ada mahasiswa yang bagiku tercatat yang mengawali pengenalanku pada pembelajaran, bahwa perubahan memiliki faktor kedekatan dengan agen perubahan alias ada manusia-manusia yang berpikir melampaui zamannya. Pada awal itu nama Edi Heri (Sekarang Dosen Sospol Unair) Yayan Sopyan, Hegel Tarome, Badrus, Untoro memberi jejak-jejak pemikiran akan penting arti perubahan. Jangan bicara dulu soal perubahan kekuasaan. Aroma itu masing terlalu asing. Dunia filsafat adalah dunia pemikiran, dunia pemikiran harus identik dengan teks. Pengenalan awal pada karya tulis di luar tugas kuliah diperkenalkan mas Yayan dengan majalah mahasiswa filsafat Dialektik majalah dengan penampilan yang sangat sederhana bercover kuning. Tidak banyak yang bisa dicatat untuk dunia pers pada awal aku masuk kuliah.
Namun pada saat itu ada catatan momen sejarah sangat penting di kampus filsafatku. Dimotori mas Edi Heri dengan pemikiran akan kesadaran bahwa mahasiswa memiliki HAK. Untuk mengaktulisasikan akan kesadaran hak yang dimiliki setiap mahasiswa maka perlu ada wadah yang dijadikan kartasis jika ada hak-hak yang dilanggar. Maka dibentuklah Biro Pembelaan Hak-hak Mahasiswa (BPHM). Berangkat dari wadah inilah ada momen sejarah yang dalam dimensi kenormalan tidak mungkin terjadi yakni “Mahasiswa Mengadili Dosen”. Kejadian ini dipicu ketika temanku Sylvi Maria Watania pada kuliah Logika 1 yang diampu oleh Drs Ary Sukowati diposisikan tidak sebagaimana mestinya. Ucapan-ucapan selalu bersifat menyudutkan. Sebagai salah satu faktor yang dialami oleh Sylvi inilah maka dengan upaya negoisasi dengan pimpinan fakultas dilakukan. Sampai pada akhirnya digelarlah pengadilan mahasiswa yang dikomandoi Edi Heri menghadapkan Dosen Ary Sukowati. Hasil yang mencengangkan sang dosen disuruh menandatangani semacam surat yang intinya bahwa sang dosen tidak akan melalukan lagi hal-hal yang menyangkut pelanggaran hak-hak mahasiswa.
Awalnya kejadian ini hanya diketahui kalangan dalam fakultas filsafat, namun bisa menjadi geger sejagat UGM ketika diulas oleh Majalah Balairung. Momen kejadian ini bagiku sangat memiliki nilai sejarah dunia kemahasiswaan, dan terasa tidak mungkin terjadi di dunia mahasiswa Indonesia dimanapun dan kapanpun juga. Dasyat, tidak ada kekerasan, tidak berdasarkan suka atau tidak suka, dan terselesaikan dalam suasana yang mencerminkan dunia yang beradab, yakni dunia dialog.
Memasuki dunia pergerakan mahasiswa bagiku tercatat dimulai pada saat memasuki pers mahasiswa fakultas filsafat. Seperi biasa ada penjaringan bagi mahasiswa yang ingin terjun, aku ditanyai soal mengapa dan bagaimana soal pers mahasiswa oleh mas yayan. Selanjutnya untuk mengarah pada dunia pers maka dilakukan pendidikan dasar jurnalistik. Pendidikan sendiri dilakukan di sebuah wisma di Kaliurang. Orang – orang yang berkompeten memberikan pelatihan. Diundanglah nama-nama senior-senior di dunia pers yang berasal dari alumni fak filsafat UGM sendiri. Memang tradisi dunia pers dengan fakultas filsafat memang melahirkan para jurnalis handal. Pada waktu itu kami para peserta dibekali oleh Mayong Surya Leksono dari Intisari, Mas Faisal dari Harian Pelita dan tokoh pers UGM pada saat itu yakni pemred Majalah Balairung M Thoriq.
Dari situlah aku mulai intens dengan dunia diskusi, bertemu orang-orang yang dikatakan sebagai aktivis. Memasuki perjalanan waktu maka memasuki dunia yang semakin bertambah wawasan, bertambah agen dimana orang-orang yang berpetualang dalam kancah pemikiran maupun pergerakan dilekatkan oleh magnet kesadaran bahwa dunia mahasiswa bukan hanya dunia ruang kuliah.
Memasuki tahun 88 muncul manusia-manusia pemberontak yang lebih berenergi. Jika ditilik dari dimensi waktu mereka-mereka lahir dari angkatan 1986, tercatat nama Sugeng Bahagijo, John Soni Tobing, Andi Munajat, Webi Warow. Dari mereka inilah dimulainya wajah pergerakan mahasiswa yang lebih berenergi, lebih memberikan wajah yang jelas apa artinya perubahan, artinya pergerakan dan artinya perlawanan.
Aroma yang lebih berenergi, memberikan kejelasan artinya perubahan, saya menempatkan pada sosok Sugeng sebagai motor konseptor, dan lebih terkuatkan pada saat dia menjadi Ketua Senat Mahasiswa Periode 1987-1989.
Pada era Sugeng, UGM dan juga Universitas di Indonesia pada waktu itu tidak mengenal adanya Senat Mahasiswa Universitas dan sekarang dikenal dgn nama BEM. Pada waktu itu aturan negara mengharamkannya, pengharaman itu dikenal dengan NKK/BKK. Dari ruang senat mahasiswa fakultas filsafat itulah pengharaman itu ingin didobrak. Maka dimulailah menyatukan dalam gerak wadah dengan merangkul semua fakultas yang ada di UGM.
Diawali dengan persiapan menyambut kedatangan mahasiswa angkatan 1989, dibentuklah panitia yang menghimpun semua fakuktas. Dibuatlah buku saku semacam buku sambutan mahasiswa baru. Soal buku ini ada cerita yang bagi saya sebagai perang perebutan pengaruh, perang ideologis. Mohon dimahfum fakultas filsafat dibandingkan dengan fakultas lain di UGM keilmuwannya mengantarkan mahasiswanya untuk berpikir radikal, bebas, dan tidak bersekat.
Senat Mahasiswa Filsafat pada era Sugeng adalah Senat yang meyakini bahwa dunia kampus harus bersifat independen. Pun ketua senatnya haruslah dari kalangan independen bukan yang memiliki bendera. Bendera di sini adalah organisasi mahasiswa intra kampus, baik itu berdasarkan agama yakni HMI, ikatan mahasiswa berbendera NU, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) atau GMKI maupun berbendera Nasionalis GMNI.
Keyakinan itu memang berhasil di fak filsafat, tapi tidak di fakultas lain yang didominasi oleh HMI. Sehingga dapat dikatakan satu-satunya fakultas di UGM yang tidak memiliki komisariat HMI hanyalah filsafat. Kembali pada masalah buku tadi masalah ideologis ini membawa konsekuensi, salah satu artikel dalam buku saku itu bagi kalangan HMI berbau aroma kiri dan itu harus dihilangkan. Padahal buku itu sudah dicetak.

Semangat untuk menyatukan pergerakan mahasiswa tetap terus dilakukan, maka digagaslah pembentukan wadah yang dinamakan Keluarga Mahasiswa (KM) UGM. Namun untuk urusan ideologis tetap tak terselesaikan. Tetap dalam kubu yang berbeda. Pertanyaan yang menggelitik lalu apa ideologi rekan-rekan pergerakan di fakultas filsafat. Awalnya tidak menjadi suatu hal yang penting. Kegiatan-kegiatan diskusi ngobrol-ngobrol antara kami lebih disemangati pemikiran-pemikiran filosofis, baik dari segi pemikiran tokoh maupun aliran. Hal ini juga sangat terwarnai oleh majalah PIJAR majalah mahasiswa fak filsafat yang dikomandai oleh Yayan Sopyan. Warna filsafat dengan bahasa yang bagi orang awam sangat membuat kening berkerut mendominasi majalah PIJAR.
Namun perjalanan sebuah pergerakan tentu harus memiliki basis ideologis, ini mudah dimengeri bahwa perjuangan akan lebih terarah jika dia di topang oleh garis perjuangan yang jelas. Maka isu-isu kerakyatan menjadi pilihan bagi aktivis di filsafat pada saat itu .Motornya dikumandangkan dari angkatan 86 misalnya John Soni, Andi Munajat maupun Webi dan sang konseptor Sugeng. Dan isu kerakyatan melahirkan semangat perlawanan terhadap kekuasaan Soeharto. Maka pada era 89 mulailah jargon-jargon anti Soeharto mulai dikumandangkan. Dari isu kerakyatan inilah maka secara teoritis orang menamainya dengan mahasiswa kiri. Atau kalau diantitesakan perjuangan mereka tidak berlandaskan semangat keagamaan. Hal ini juga akan mudah terlihat ketika melihat sosok-sosol yang ada di dalamnya. Urusan ritualitas keagamaan tidak pernah akan ditemui, misalnya sholat wajib 5 waktu, puasa atau pergi ke gereja.
Menebar bibit pemikiran-pemikiran yang kritis dilakukan dengan diskusi yang cukup intens, seringkali dilakukan dengan nongkrong di kantin gedung pusat sambil ngecengin mahasiswa psikolgi yang kebanyakan cewek. Juga dilakukan sore atau malam hari. Sekali-kali mendatangkan nara sumber, saya masih ingat ketika Pak Soejono Soemargono diminta jadi pembicara. Sebetulnya ada keberatan dari kerabatnya kalau Pak Jono jadi pembicara, karena kalau ada apa-apa dengan beliau dan diajak diskusi sore hari. Beliau dikenal sebagai dosen fakultas filsafat yang memiliki integritas, kaya pengalaman dan memiliki wawasan pengetahuan yang mumpuni, apalagi ketika diajak bicara tentang sejarah Indonesia.
Ada satu kegiatan yang juga dijadikan ajang penebaran pemikiran –pemikiran perlawanan . Yakni kegiatan opspek bagi mahasiswa baru, kami menamakannya dengan “operasi spektakuler” . diadakan di pantai Parang Tritis. Pada waktu itu mahasiswa barunya angkatan 1989. Panitianya banyak amir, dari angkatan 85 misalnya mas Badrus Salam, angkatan 86 john soni yang ditinjuk sebagai ketua pelaksana, dan tentu saja ada Andi, Webi. Angakatan 87 aku sendiri Bogel, Genot, dan sekitar lebih dari 10 mahasiswa angkatan 87, juga angkatan 88 aku ingat ada Seno Joko Suyono, Bram, Firman. Acara memang difokuskan pada membentuk daya kritis mahasiswa baru. Tak dinyana dalam perjalanan waktu 10 tahun kemudian dari angkatan 89 ini lahir manusia-manusia muda yang menghiasi halaman media nasional dalam kasus korban penculikan sebut saja nama Waluyo Jati, Nezar Patria.
Ruang lingkap ranah pergerakan semakin hari semakin meluas, digerakkan oleh motor-motor lapangan yang memiliki energi lebih, sebut saja sang angkatan 86 Jon Soni, Andi, Webi, serta sang konseptor Sugeng menembus batas fakultas filsafat, juga UGM sendiri. Intensitas isu dikobarkan, terlebih isu-isu kerakyatan. Apa yang mereka lakukan bukannya tanpa resiko, apalagi suasana represif kekuasaan masih mencengkeram. Yang namanya intel selalu menjadi menapakkan gaungnya ketika misalnya berdiskusi di kampus.
Pada tahun itulah satu kata muncul manampakkan wujudnya yang asli, yakni demonstrasi. Bukan hal yang sederhana untuk memulainya. Jangan harap demionstrasi bisa dilakukan pada saat itu. Dilarang keras. Yang nekat berhadapan dengan militer.
Ada sosok seorang bapak yang memberikan kontribusi penting bagi ruang gerak pergerakan mahasiswa UGM pada waktu itu Seorang Rektor yang sangat disegani, dan dicintai mahasiswanya, baik kalangan aktivis jalan, aktivis gelanggang (tempat kegiatan seni dan olah raga UGM serta pers juga keagamaan). Pak Kus panggilaan akrabnya. Pak Koesnadi lah satu-satunya rektor yang mau mengantarkan mahasiswanya ke DPRD Jogya untuk berdemo menentang undian (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB).
Intensistas pergerakan semakin meluas, tidak hanya dari kandang Filsafat yang menjadi pelopornya namun hasil energi kemudian disebar seantero jogja, maka bermunculan kaum muda progresif dari UII, UMJ dan IAIN. Dan itu tergambarkan bagaimana fakultas filsafat dijadikan markas para kaum pergerakan. Dari situlah digagas wadah mahasiswa Yogyakarta maka terbentuklah Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY).
Demonstrsi demi demonstrasi digelar. Salah satu ajang upaya perlawan mahasiswa Jogjakata pada waktu itu adalah perlwanan terhadap pembangunan Waduk Kedungombo Boyolali. Mahasiswa Jogja bergerak, menggelar aksi perlawanan ke gedung DPRD Jateng di Semarang, juga demonstrasi ketempat lokasi kedungombo walau saat itu kami hanya berdemonstra di jalan menuju waduk karena di hadang aparat.
Pada moment lain demonstrasi intens dilakukan, dan suatu ketika korban-korban kekeran militer mulai berjatuhan, salah satunya Webi Warow yang diharajar militer dan sampai terkapar di rumah sakit.
Seiring perjalanan waktu, semangat perlawanan mengarah pada ruang yang sangat dekat dengan kekuasaan yakni Jakarta, dari anak – anak muda fakultas filsafatlah kemudian lahir embrio yang namannya Partai Rakyat Demokrat (PRD). Dan sampai pada akhirnya Gelombang Reformasi tahun 1998 bergulir, Soeharto terdepak dari kursi kekuasaan.
Dan kalau mau dirunut dari sudut ruang dan waktu yang namanya fakultas filsafatlah semuanya itu bisa jadi bermula pada tahun 1988. Dan Andi Munajat hadir sebagai salah satu anak muda yang selalu konsisten, memiliki energi lebih. Dan berjuang demi tegaknya keadilan bagi rakyat penghuni negeri ini. Selamat jalan Andi Munajat.
Bandung 5 April 2009


0 Responses to “Mengais Jejak Langkah Anak Muda Fakultas Filsafat UGM era 80an”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: