21
Aug
09

Kant : “Sang Pemutarbalikan Copernican” (Kopernikanische Wende)

Oleh:  Arinto Nurcahyono

Memasuki abad 18 dikenallah apa yang disebut dengan “zaman Pencerahan” (bhs. Jerman Aufklärung; bhs. Inggris: Enlightenment). Nama ini diberikan karena manusia mulai mencari cahaya baru di dalam rasionya sendiri. Dan filsuf terbesar pada era Pencerahan, siapa lagi kalau bukan Immanuel Kant (1724-1804). Tentang Pencerahan itu sendiri seperti yang telah disebutkan sebelumnya,  Kant mengatakan bahwa orang keluar dari keadaan tidak akil-balig (Unmündigkeit), yang dengannya ia sendiri bersalah. Kesalahan itu terletak dalam keengganan atau ketidakmauan  manusia untuk memanfaatkan rasionya: orang lebih suka berpaut pada otoritas di luar dirinya (wahyu ilahi, nasihat orang terkenal, ajaran gereja atau negara). Berhadapan dengan sikap ini, Pencerahan bersemboyan: Sapere Aude!, yang berarti: Beranilah berpikir sendiri!. Dengan demikian, Pencerahan merupakan tahap baru dalam proses emansipasi Barat yang telah dimulainya sejak Renaissance.

Salah satu kebesaran Kant terletak ketika ia memberi tempat sentral pada manusia sebagai subjek yang berpikir. Kalau sebelum Kant kebenaran lebih dimengerti sebagai “pencocokan intelek terhadap realitas” (adaequatio intellectus ad rem), sejak Kant kebenaran  itu lebih merupakan “pencocokan realitas terhadap intelek” (adaequatio rei ad intellectum). Sebelum Kant, filsafat lebih dipandang sebagai suatu proses berpikir di mana subjek (manusia, “aku”) mengarahkan diri pada objek (benda “dunia”). Akan tetapi sejak Kant arah itu diubah: objeklah yang kini mengarahkan diri kepada subjek untuk diproses menjadi pengetahuan. Perubahan arah ini dinamakannya “pemutarbalikan Copernican” (Kopernikanische Wende). (Tjahjadi, 1991: 27 dikutip dari  Copleston, 1968: 224-229).

Pemikiran Kant tentang teori pengetahuan tidak terlepas pada suasana  intelektual filosofis di zaman Kant. Karya intelektual yang dihasilkan Kant tidak terlepas dari adanya ketegangan  antara pendekatan kontinental, yang menekankan pemikiran rasional, dan aliran Inggris, yang menekankan pengalaman inderawi sebagai dasar pengetahuan. Kant menentang kedua posisi ekstrem bahwa semua pengetahuan muncul dari pengalaman, dan bahwa ada pengetahuan yang terlepas sama sekali dari pengalaman. Sebaliknya, dia yakin bahwa semua pengetahuan berhubungan dengan pengalaman, tetapi tidak dapat direduksikan kepada apa yang kita alami.

Pemikiran Kant sangat dipengaruhi oleh Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) dan Sir David Hume (1711-1776). Keduanya merupakan wakil dari dua aliran pemikiran filosofis yang kuat melanda Eropa pada masa Pencerahan. Leibniz tampil sebagai tokoh penting dari aliran rasionalisme, sedangkan Hume muncul sebagai wakil dari aliran empirisme.

Leibniz memulai filsafatnya atas pengertian  mengenai “substansi”, Leibniz  mengatakan bahwa terdapat banyak sekali substansi dan jumlahnya tidak terbatas. Kenyataan terdiri dari monade-monade: “bagian-bagian” paling kecil, yang semua merupakan  substansi-substansi. Monade-monade tidak mempunyai ukuran; monade-monade paling baik dianggap sebagai “titik-titik”, yang mempunyai kuantitas energi tertentu. Monade-monade itu seperti “jiwa-jiwa”, karena  semua monade mempunyai “kesadaran”. (Hamersma, 1990, 14).

Selanjutnya menurut Leibniz ada tiga macam monade. Pertama, monade yang hanya memiliki gagasan yang tidak sadar dan gelap, yakni monade-monade yang menyusun benda-benda anorganik. Kedua, monade yang telah memiliki gagasan yang telah sampai pada kesadaran yang agak jelas, yaitu monade yang memberi pengenalan inderawi. Ketiga, monade yang memiliki gagasan yang jelas dan disadari (apperceptio), yakni jiwa manusia  yang mengenal hakekat segala sesuatu serta mengungkapkannya dalam suatu definisi. (Tjahjadi, 1991: 32).

Ajaran Leibniz mengenai monade ini diterapkannya juga pada ajaran mengenai proses pengetahuan manusia. Menurut Leibniz, pengetahuan manusia mengenai alam semesta sesungguhnya telah ada  di dalam dirinya sendiri sebagai bawaan. Pada mulanya pengetahuan ini berbentuk gagasan atau ide yang belum sadar, tetapi kemudian ini dijadikan sadar oleh karya imanen jiwa manusia yang adalah sebuah monade inti. Di dalam pengamatan, pengetahuan masih agak kabur sebab baru menghasilkan suatu gagasan yang masih sedikit kejelasan dan kesadarannya (monade macam kedua). Tetapi kemudian pengetahuan di dalam pengamatan itu secara perlahan-lahan menjadi semakin jelas, sehingga akhirnya muncul di dalam gagasan atau idea yang jelas sekali, yakni pengetahuan dalam bentuk pengertian (monade macam ketiga). (Tjahjadi, 1991: 33).

Bagi Leibniz, pengalaman  itu sendiri bukanlah sumber pengetahuan, melainkan tingkat perdana pengetahuan akali. Di  dalam pengetahuan dalam bentuk pengertian, rasio atau daya berpikir sendirilah yang lebih berusaha  untuk menaikkan isi pengetahuan, dari pengalaman hingga menjadi pengetahuan yang jelas dan disadari. Sifat pengetahuan ini adalah umum dan mutlak perlu, justru karena tidak berasal dari pengalaman seseorang. Sampai di sini, semakin kentara bahwa Leibniz adalah penganut aliran rasionalisme yang sudah dipelopori oleh Descartes, filsuf terkenal dari Perancis itu.

Pada masa 1755-1770 sebagai seorang Kant muda atau dikenal dengan masa pra-kritis, sangat dipengaruhi oleh rasionalisme ala Leibniz. Sebagai rasionalis, Kant muda pernah memiliki asumsi yang tak kritis bahwa prinsip kausalitas, yakni bahwa setiap kejadian memiliki penyebab, merupakan hukum alam yang niscaya. Yang melekat pada hakikat setiap hal, suatu kebenaran yang dapat disaksikan dengan rasio murni tanpa harus mengacu pada pengalaman. Ia pun pernah menyepakati begitu saja bahwa terdapat hubungan-hubungan yang bersifat niscaya dalam alam, yang melekat secara inheren dalam tatanan objektif realitas. Dari sudut pandang seperti itu, kemampuan rasio tak lain adalah kemampuan untuk mengintuisikan “hubungan-hubungan nyata” seperti itu dan dengan demikian lantas menyediakan semacam peta atau foto sinar X tentang struktur inheren dari ada itu sendiri. Pikiran manusia berpikir “secara sebab akibat” karena pikiran itu sendiri sebenarnya adalah cermin yang memantulkan tanpa distorsi struktur terpendam dunia luar. Rasio mengetahui bahwa prinsip-prinsip itu memang “sudah jelas dengan sendirinya” adalah benar karena ia “menyaksikan”, melalui tindakan intuisi intelek, sehingga memang benar bahwa prinsip-prinsip itu adalah hakikat segala hal. Berdasarkan pandangan demikian itu, rasio bukanlah semata-mata merupakan kemampuan mengabstraksikan dan menyimpulkan melainkan juga kemampuan menemukan  yang memungkinkan kita menyaksikan ciri-ciri paling umum dari segala hal sebagai ada dalam dirinya sendiri. (Aiken, 2002: 25).

Seiring berjalannya waktu  Kant kemudian mengagumi pemikiran seorang filsuf Skotlandia David Hume, dan Kant mengaku berkat Hume lah ia bangun dari “tidur dogmatik”-nya. Hume adalah seorang yang menolak pandangan bahwa manusia mempunyai pengetahuan bawaan, dengannya ia lantas mengenal alam semesta. Sumber pengetahuan itu, kata Hume, adalah pengalaman.

Tanggapan Hume terhadap pandangan kaum rasionalis sangat sederhana.  Ia bertanya, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa setiap kejadian memiliki dan pasti memiliki penyebab yang terlepas dari pengalaman? Hume bersedia mengaku bahwa beberapa proposisi memang bisa dibenarkan. Di antaranya ia menyebut kebenaran matematika dan logika, serta proposisi-proposisi verbal seperti “Setiap anjing adalah anjing” dan “Setiap benda yang berwarna lebih panjang dari benda aslinya”. Namun, kebenaran-kebenaran seperti itu merupakan “relasi ide-ide”; kebenaran-kebenaran itu tak mengemukakan apa-apa tentang persoalan fakta atau eksistensi. Menurut Hume, satu-satunya kriteria kebenaran mutlak adalah hukum nonkontradiksi. Jika  suatu proposisi tak benar disangkal tanpa kontradiksi, ia pasti benar. Namun dengan logika yang sama, pendapat itu tak mengemukakan apa-apa di luar yang diandaikan oleh konsep-konsep yang dikandungnya. Proposisi mana pun yang bisa disangkal tanpa kontradiksi tidak niscaya benar. Dalam hal itu, sekiranya itu ada artinya, bukti untuk itu hanya bisa diperoleh lewat pengalaman. (Aiken, 2002: 25).

Lantas bagaimana dengan hukum kausalitas? Adakah kontradiksi jika menyangkal bahwa sesuatu bisa eksis tanpa penyebab? Menurut Hume, jawabannya pasti “Tidak”. Hukum sebab akibat adalah universal, sejauh ia adalah hukum alam, tak bisa diketahui secara apriori sebagai benar sebelum adanya pengalaman. (Aiken, 2002: 26).

Persoalan yang muncul ini sangat fundamental. Sebab jika prinsip kausalitas itu tidak pasti, maka akan tampak bahwa seluruh upaya ilmu pun tak memiliki landasan yang lebih kuat dibandingkan agama wahyu. Maka, tak adakah pembenaran bagi keyakinan para ilmuwan atas keseragaman alam? Apakah ia hanya sekedar tindakan keyakinan lainnya yang tak memiliki landasan yang lebih rasional dibandingkan komitmen para pendeta, nabi, atau dukun (Aiken, 2002: 26).

Terhadap persoalan-persoalan serius itulah Kant mencurahkan pemikirannya dalam Critique of Pure Reason. Jawaban-jawaban atas persoalan itulah yang menyusun sebagian besar dari Revolusi Copernican dalam filsafat. Kant mencoba  mempersatukan rasionalisme dan empirisme. Ia memperlihatkan bahwa pengetahuan merupakan hasil  “kerjasama” dua unsur: pengalaman inderawi dan keaktifan akal budi. Pengalaman inderawi  merupakan unsur  “a posteriori” (“yang datang  kemudian”), akal budi merupakan unsur “a priori” (“yang datang lebih dulu”). Empirisme dan rasionalisme hanya mementingkan satu dari dua unsur ini, sehingga hasilnya setiap kali berat sebelah. Kant memperlihatkan bahwa pengetahuan selalu sebagai sintetis.

Kant membedakan tiga macam putusan. Pertama, putusan analitis: di sini predikat tidak menambah  sesuatu yang baru pada subjek. Karena sudah termuat di dalamnya (misalnya: lingkaran adalah bulat). Kedua, putusan sintetis a posteriori: di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman inderawi. Pernyataan “meja itu bagus”, misalnya, adalah putusan sintetis a posteriori. Pernyataan ini merupakan hasil suatu pengamatan inderawi setelah (post, bhs Latin) saya mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah saya ketahui. Ketiga, putusan  sintetis a priori: di sini dipakai suatu sumber pengetahuan yang kendati  bersifat sintetis, namun toh bersifat a priori juga. Begitu misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya”. Putusan ini berlaku umum  dan mutlak (jadi a priori), namun putusan ini juga bersifat sintetis dan a posteriori. Sebab di dalam  pengertian “kejadian” belum  dengan sendirinya  tersirat pengertian “sebab”. Maka di sini baik akal maupun pengalaman inderawi dibutuhkan serentak. (Tjahjadi, 1991: 35-36).

Penjelasan lebih lanjut tentang tiga macam putusan ini secara garis besar dapat dikemukakan sebagai berikut: Kant sepakat bahwa kaum rasionalis telah bersikap tidak kritis dalam anggapannya bahwa hukum kausalitas universal adalah kebenaran yang bersifat niscaya, yang diintuisikan  oleh rasio sebagai kebenaran dari segala hal sebagai ada dalam dirinya sendiri. Sebagaimana diungkapkan Kant, hukum itu tidak “analitis”. Hume sepenuhnya benar ketika menyangkal bahwa hukum itu disimpulkan dari makna sejati “sesuatu”, yakni bahwa sesuatu itu pasti memiliki penyebab. Dengan demikian, prinsipnya harus bersifat  “sintetis”. Namun, Kant menolak  untuk menganggapnya hanya sebagai pernyataan serba-mungkin atas fakta. (Aiken, 2002: 26).

Penolakan Kant ini berupaya untuk mempertahankan konsep kausalitas yang diserang Hume. Kant mencoba memperlihatkan bahwa konsep sebab harus bisa diterapkan kepada kenyataan objektif, sebab hanya berkat kemampuan konsep-konsep seperti “sebab” itu  untuk diterapkanlah bahwa kita dapat membedakan antara kenyataan objektif dan subjektif.

Kant berpendapat bahwa pengalaman muncul dengan bahan mentah dari sensasi. Tetapi indera sendiri tidak memberikan kita “objek”. Untuk itu, bahan mentah  dari sensasi harus  dibentuk oleh kategori-kategori formal akal, yang menurut Kant ada duabelas. Di antara kategori-kategori formal ini, “sebab” sangatlah penting. Semua sensasi tersebut disajikan  di dalam urutan waktu.  Semua sensasi kita mengalir. Tetapi apa yang kita saksikan adalah bahwa urut-urutan di mana kita mengalaminya tidak dapat diatur secara sembarangan. Misalnya tahap-tahap yang kita saksikan di dalam melihat lajunya sebuah mobil. Hanya berdasar pada perbedaan antara yang bersifat mengikuti hukum dan yang bersifat sembarangan atau tanpa aturanlah kita membedakan antara yang objektif dan yang subjektif. Wahana yang objektif  adalah wahana dari fenomen yang teratur. (Hardono, 1994: 101).

Dapat dikatakan bahwa hukum kausalitas menurut Kant, bukanlah pernyataan faktual yang hanya benar secara a posteriori, bukan pula penjelasan “analitis” atas makna-makna yang telah terkandung dalam konsep. Ia lebih merupakan suatu prinsip regulatif yang merupakan peraturan universal bagi seluruh  penyelidikan rasional. Semua prinsip jenis ini adalah a priori, sekaligus juga sintetis. Dengan demikian, prinsip-prinsip itu jelas universal dan niscaya. Dan karena itu validitasnya tidak tergantung pada konfirmasi pengalaman. Sebaliknya, validitasnya sudah diandaikan oleh semua keputusan yang hendak memberi kita pengalaman tantangan fenomena. Akan tetapi, prinsip-prinsip itu berlaku bagi konsepsi kita atas segala hal yang eksis, dan bukan hanya bagi apa yang oleh Hume disebut relasi ide-ide (Aiken 2002: 26-27).

Maka, bagi Kant, persoalan fundamental kritik rasio hanyalah,  “Bagaimana keputusan-keputusan sintetis a priori dimungkinkan? Jawaban Kant terhadap persoalan ini dapat dijelaskan bahwa pemahaman manusia tak dapat lagi dikonsepsikan  sebagai cermin  pasif yang memantulkan  secara intuitif pola-pola, atau logos, dari segala sesuatu dalam dirinya sendiri. Apa yang disebut “pikiran” harus dianggap sebagai pelaku aktif yang mampu merangkai  bahan-bahan mentah pengalaman inderawi menjadi suatu tatanan dunia berupa fenomena yang terkonseptualisasikan. Bagi Kant pikiran itu sendiri bukanlah satu-satunya realitas. Data pengalaman inderawi mau tak mau memang “sudah ada”; kita sekedar menemukan bahwa data itu ada saat kita membuka mata dan telinga. (Aiken, 2002: 27).

Dalam pemikiran tentang  pengetahuan sintetis aposteriori itulah Kant mengusung “revolusi Copernican” dalam filsafat. Bukan subjek yang tergantung pada objek, tetapi sebaliknya objek tergantung pada subjek. Objek sejauh menampakkan diri (fenomen) dan sejauh diketahui, distrukturkan oleh subjek. Objek sebagaimana adanya atau “benda dalam dirinya sendiri” (noumenon) dan yang melulu merupakan “bahan mentah” bagi pengetahuan tidak dapat diketahui. (Sudarminta, 2002: 110).

Menurut Kant, pembalikan baru dari peran dominan dalam kegiatan mengetahui tersebut, (yakni dari peran dominan objek dalam menentukan pikiran ke peran dominan subjek dalam menentukan objek sebagaimana diketahui) merupakan jalan  satu-satunya untuk menjamin kebenaran. Kebenaran baginya adalah kesesuaian antara objek dengan pikiran.  Karena dalam pandangannya, pikiran  atau subjek mengkonsumsikan objek sebagaimana diketahui, maka tentu saja objek dan subjek jelas sesuai satu sama lain. Ia menyebut  posisi epistemologisnya sebagai bentuk “realisme empiris” (bagi kita benda-benda  adalah sebagaimana mereka menampakan diri kepada kita) dan sekaligus “idealisme transendental” (benda-benda sebagaimana diketahui, bagi kita, dikonstitusikan oleh pikiran kita). Dengan kata lain, pikiran kita sebagai subjek memang tidak menciptakan objek pada dirinya sendiri tetapi  objek sebagaimana kita ketahui, distrukturkan secara apriori oleh pikiran kita. Bagi Kant, semua unsur formal atau struktural dalam objek yang kita ketahui, datang dari struktur pikiran. Sedangkan  semua unsur material merupakan sesuatu yang pada dirinya tak dapat diketahui. Unsur-unsur  formal yang secara apriori berasal struktur-struktur pikiran, bagi Kant merupakan suatu syarat yang bersifat niscaya bagi dimungkinkannya pengalaman kognitif, dengan demikian struktur apriori itu sendiri tidak pernah dialami pada dirinya dan juga tidak berasal dari pengalaman. Dalam rumusan Kant, setiap unsur kegiatan manusia mengetahui muncul bersama pengalaman, tapi tidak setiap unsur di dalamnya berasal dari pengalaman. Unsur-unsur formal muncul bersama pengalaman akan objek, unsur-unsur formal tersebut tidak dapat berasal dari pengalaman, karena persis merupakan syarat-syarat bagi dimungkinkannya pengalaman. Oleh karenanya. Semua unsur formal atau struktural kegiatan manusia mengetahui itu bersifat apriori. (Sudarminta, 2002: 111).

Pada akhirnya garis besar dalam sejarah filsafat zaman modern, rasionalisme dan empirisme, saling bertemu dalam filsafat Kant. Pikiran Kant merupakan suatu sintesis yang sekaligus berarti titik akhir rasionalisme dan empirisme.


0 Responses to “Kant : “Sang Pemutarbalikan Copernican” (Kopernikanische Wende)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: