21
Aug
09

Descartes: Epistemologi Clear and Distinguish

Oleh : Arinto Nurcahyono

René  Descartes (1598 – 1650), merupakan wakil yang sempurna dari filsafat modern. Dia tidak tunduk pada penguasa intelektual yang mana pun kecuali sinar “kodrati” akal sehat. Ini membuat dia terpisah, dari tradisi skolastik. Bagi Descartes hasil semua spekulasi sebelumnya terpaksa dikesampingkan atau ditangguhkan sampai semua prinsip yang jelas dan tak diragukan lagi dapat ditemukan yang digunakan untuk mengukurnya. Tanpa dibantu dengan prinsip semacam itu tidak ada sistem entah ilmiah entah metafisik dapat menjamin kesepakatan. Untuk semua risetnya, Descartes tidak dapat menemukan prinsip dasar dalam semua karya yang telah dibacanya. Maka dari itu dia memulai dengan suatu rencana penataan kembali intelektual yang radikal yang begitu besar sampai skolastik tidak diperhatikan lagi.

Menurut Descartes, filsafat pada masa lampau terlalu mudah memasukkan penalaran yang hanya bisa-jadi-benar ke dalam khasanah penalaran yang sebenarnya dikhususkan bagi insight niscaya. Apa yang dicari filsafat adalah kepastian  dan kepastian hanya mungkin bila didasarkan pada evidensi yang mau tak mau harus diterima dan diakui. Hanya penalaran yang niscaya seharusnya merupakan bagian di dalam pergulatan filosofis. Bila sesuatu yang lain dimasukkan kedalamnya, kita hanya mendapatkan gado-gado antara yang masuk akal dan yang tidak masuk akal, sebagaimana di dalam filsafat masa lampau. (Hardono, 1994: 30).

Cara yang digunakan Descartes merupakan usaha yang paling radikal dan cerdik untuk mendapatkan kepastian pengetahuan dalam  rangka mengatasi bercampurnya hal yang masuk akal dan tidak masuk akal. Ia menggunakan keraguan untuk mengatasi keraguan. Salah satu cara untuk menentukan sesuatu yang pasti dan tidak dapat diragukan ialah melihat seberapa jauh hal itu bisa diragukan. Bila kita secara sistematis mencoba meragukan  sebanyak mungkin pengetahuan kita, akhirnya kita akan mencapai titik yang tidak bisa diragukan, sehingga pengetahuan kita dapat dibangun di atas dasar kepastian absolut. Keraguan yang diteruskan sejauh-jauhnya, akhirnya akan membuka tabir sesuatu yang tidak dapat diragukan lagi, kalau hal itu memang ada. (Hardono, 1994:  29)

Pencapaian titik yang tidak dapat diragukan lagi bagi Descartes adalah eksistensi dari pikiran yang meragukan. Kemudian muncullah ungkapan “Cogito ergo sum”, saya berpikir maka saya ada.  Seperti yang diungkapkan oleh Descartes yang dikutip Smith dan Raeper:

“Saya memutuskan untuk menganggap bahwa tidak ada sesuatu pun yang pernah masuk dalam pikiran lebih benar daripada ilusi impianku. Tetapi segera saya menjadi sadar bahwa, sementara saya memutuskan begitu untuk mengira bahwa sesuatunya salah, kemudian dengan pasti bahwa saya yang berpikir, maka saya ada, saya begitu pasti dan yakin bahwa semua pengandaian yang liar dari pada skeptik tidak mampu menggoyahkannya, saya memutuskan bahwa saya dapat menerimanya tanpa ragu sebagai prinsip filsafat yang saya cari.” (Smith dan Raeper, 2000: 63).

Hal yang baru pada pemikiran Descartes ialah bahwa subjek yang sedang berpikir menjadi titik pangkal filsafatnya. Di sini Descartes menampakkan diri sebagai seorang rasionalis. Kata Descartes “Kalau saya ragu-ragu akan segala sesuatu, saya masih mempunyai kepastian tentang kesangsian saya. Maka: saya sedang berpikir, saya ada. Dan kalau saya berpikir, saya  ada. Je pense, donc je suis; Cogito, ergo sum, ‘(Kalau) saya berpikir, (maka) saya ada”.

Hal yang perlu dicatat dalam  pemikiran Descartes ini bahwa isi dari cogito, yaitu apa yang dinyatakan kepadanya adalah melulu dirinya yang berpikir. Yang termaktub di dalamnya adalah: cogito ergo sum cogitans. Saya berpikir, maka saya adalah pengada yang berpikir ada; yaitu eksistensi dari budi sebuah substansi sadar. Namun hal ini tidak menjamin eksistensi dari badan. Secara singkat perlu dikatakan bahwa ketika Descartes berbicara mengenai “berpikir”, ia tidak maksudkan secara eksklusif pada penalaran saja: melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak, yang dianggap sebagai kegiatan sadar, termasuk di dalam  istilah “berpkir” ini. Meskipun mungkin status dari objek-objek mereka bisa diragukan, kegiatan-kegiatan sadar ini tidak diragukan. (Hardono, 1994: 34)

Selanjutnya, kata Descartes seperti yang dikutip Hamersma, menyebutkan bahwa saya mempunyai kepastian tentang ide “saya berpikir maka saya ada”, karena ide ini adalah ide “jelas dan tegas”. Dan semua hal yang saya punyai sebagai ide-ide yang jelas dan tegas (atau yang saya lihat, clare et distincte), itu pasti. Akal budi, ratio, mencapai kepastian ini tanpa pertolongan apa pun. (Hamersma, 1990: 8). Ide yang jelas dan tegas itu ada tiga macam, yakni kesadaranku (res cogitas), keluasan (res extensa), dan adanya yang sempurna (ens perfectissimum). Masing-masing ide itu adalah Aku (menurut Descartes, pusat kesadaran sama dengan jiwa belaka); keluasan terwujud dalam dunia material, termasuk tubuh manusia; dan Tuhan. Dari adanya ketiga ide itu semua lainnya yang ada menjadi masuk akal dan dapat diturunkan atau dibuktikan melalui jalan deduksi. (Verhaak, 1989: 100).

Dengan demikian bagi Descartes bahwa dengan suatu refleksi yang teliti mengenai kebenaran pertama (cogito) ia akan mampu untuk menemukan di dalamnya jaminan bagi kebenaran, yang dapat digunakan sebab patokan bagi kepastian selanjutnya. Mengapa dia tidak mungkin menyangkal eksistensinya sendiri? Sebab katanya, ia menangkapnya dengan begitu jelas dan tegas, sehingga keraguan menjadi tak berdaya. (Hardono, 1994: 37).

Catatan yang terpenting dapat diberikan, bahwasanya pemikiran Descartes dapat dikatakan revolusioner, karena Descartes berpangkal pada dirinya. Manusia, subjek pemikiran, menjadi titik tolak. Dan itu sama sekali baru. Sebelum Descartes, kebenaran selalu berdasarkan kekuasaan di luar manusia: kekuasaan gereja, Kitab Suci, tradisi atau negara. Tetapi pada Descartes manusia sendiri menjadi kekuasaan yang “membawa”, “memikul”  kenyataan. Manusia yang berpikir merupakan pusat dunianya.

Pendapat Descartes tersebut mendapat serangan frontal dari  seorang filsuf Inggris John Locke (1632-1704). Melalui pengungkapannya yang matang dan tertuang dalam karya “Essay concerning Human Understanding” (1690), Locke menolak terhadap apa yang disebut dengan  “ide bawaan” (innate ideas) sebagai dasar dari pengetahuan.


0 Responses to “Descartes: Epistemologi Clear and Distinguish”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: