08
Aug
09

Richard Rorty: Kritik Terhadap Fondasionalisme

Oleh : Arinto Nurcahyono

Sebagian pengamat memasukkan Rorty sebagai pemikir Postdernisme, meski Rorty menolak dikategorikan postmodern. Seperti juga Derrida, Rorty mengembangkan pula sebuah budaya pasca filsafat (post-philosophical culture) yang ditandai dengan kritik-krtik mereka terhadap tradisi filsafat modern
Alan R. Malachowski menyoroti pemikiran Rorty dari aspek epistemologi, melihat ada dua klaim utama pandangan negatif Rorty terhadap epistemologi. Pertama, karena filsafat berpusat pada epistemologi, maka ia cenderung untuk menghilangkan epistemologi dan segala persoalan yang berkaitan dengannya. Kedua, Rorty mendukung sebuah bentuk filsafat pasca-epistemologi (a post-epistemological form philosophy), dan menawarkan bagi pengembangan otonomi kreatif bahasa. Lebih jauh, Malachowski mengintepretasikan klaim pertama Rorty tersebut menunjukan bahwa ia menganggap epistemologi tidak dibutuhkan lagi dan pengetahuan tidak perlu harus didasarkan pada fondasi atau fondasionalisme (Malachowski, 1990: 140).
Bagi Jane Heal (1990: 101) melihat paling tidak secara garis besar ada dua panorama utama pemikran Rorty yang terkandung dalam bukunya Philosophy and the Mirror of Nature dan Consequences of Pragmatism. Pertama, Rorty menyerang cara penyusunan pengetahuan, kebenaran, dan filsafat yang ia simpulkan dengan bayangan (image) dari pikiran di mana pikiran tersebut berfungsi sebagai cermin besar yang memantulkan bayangan dari alam (Mirror of Nature). Kedua, Rorty menawarkan sebuah pemikiran alternatif yang berperan dan berfungsi sebagai konsep budaya dan pemikiran masa depan bagi kehidupan manusia yaitu pragmatisme.
Kritik Rorty terhadap fondasionalisme seperti yang terkandung pada Philosophy and the Mirror of Nature dan karya-karya lainnya menekankan pada analisisnya atas pemikiran epistemologi Rene Descartes, John Locke dan Immanuel Kant.. Pemikiran ketiga epistemolog inilah yang mendominasi perkembangan pemikiran filsafat pada era modern. Konsep epistologi Descartes yang memberikan pada pencarian kepastian (the quest for certainty), Locke yang mengemukakan konsep representasi, dan Kant dengan konsep akal murninya (pure reason), semuanya bagi Rorty adalah merupakan epistemologi fondasionalisme. ((Rorty, 1979: 4).
Epistemologi Descartes pada masa pencerahan merupakan babsis atau dasar epistemologi modern dan menggiring pemikiran sesudahnya untuk percaya bahwa epistemologi adalah fondasi dari semua filsafat. (Rorty, 1979: 45, 262). Keraguan Descartes yang disebut dengan “keraguan metodis” tersebut dapat diatasi dengan menggunakan penalaran rasional sehingga segala sesuatunya jelas dan terpilah (clear and distinct). Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ada) adalah ungkapan yang terkenal dalam metode kesangsiannya tersebut.
Rorty (1979: 45) menilai bahwa representasi atau gambaran terhadap objek menurut Descartes adalah berada dalam akal (“mind”) pada bagian lain, Rorty mengemukakan bahwa pandangan yang demikian itulah yang merupakan salah satu kesalahan terbesar Descartes dalam filsafat umumnya, epistemologi khususnya Descartes beranggapan bahwa akal (mind) sebagai suati yang bersifat gerak mekanis. Sedangkan kesalah terbesar yang lain adalah fondasionalisme, yaitu pandangan bahwa pengetahuan yang dapat dipegang kebenarannya adalah pengetahuan yang mempunyai dasar atau fondasi (Rorty, 1979: 140). Kedua kesalahan tersebut saling terkait, karena dasar atau fondasi pengetahuan itu adalah akal atau rasio.
Yang pertama tentu saja terikat dengan pandangan dualisme Descartes yaitu adanya akal dan badan (mind and body). Rorty melihat kerancuan-kerancuan epistemologis yang telah dilakukan oleh Descartes dalam merupmuskan epistemologinya. Descartes menyamakan antara yang dirasakan secara fisik dengan yang dipikirkan dalam satu bentuk. Descartes tidak membedakan kepastian yang diperoleh berdasarkan landasan metafika untuk kepastian akan hal-hal yang batin dengan kepatian berdasarkan epistemologi untuk memperoleh kepastian yang lain (Rorty, 1979: 95).
Lebih jauh Rorty mempertanyakan bagaimana mungkin kita mengetahui sesuatu yang bersifat mental menggabarkan sesuatu yang bukan mental. Akal atau pikiran adalah sesuatu yang berada dalam diri, dan tidaklah mungkin akan menggambarkan dengan tepat objek diluar dirinya. Kerancuan tersebut akhirnya bermuara pada fondasionalisme Descartes yang bagi Rorty adalah kesalahan yang terbesar. Keinginan Descartes untuk memberikan fondasi yang kokoh terhadap pengetahuan tersebut tidak bisa diragukan lagi (indubitality).
John Locke, menurut Rorty, mengikuti dan mempunyai peranan dan kontribusi yang cukup besar terhadap kontinuitas kesalahan yang telah dilakukan oleh Descartes. Rorty memandang Locke maupun sebagian besar filsuf abad ke-17 tidaklah memahami pengetahuan sebagai justified to belief melainkan pengetahuan merupakan gambaran yang tepat terhadap realitas (accurate representations of reality). Hal tersebut dikarenakan mereka tidak melihat pengetahuan itu sebagai hubungan antara orang dengan proposisi-proposisi, melainkan hubungan antara orang dengan objek (subject and object). Oleh karena itulah, Locke dan yang lainnya memandang pengetahuan tentang object di luar manusia (knowledge of), bukan pengetahuan bahwa sesuatu itu begini atau begitu (knowledge that). Berangkat dari pandangan yang demikian , Locke berpendapat bahwa manusia sebagai subjek hanya bisa menangkap kesan (imoression) dari objek melalui indera. Inilah sisi lain letak kerancuan pemikiran epistemologi Locke yaitu kerancuan antara hubungan elemen pengetahuan (proposisi) dengan kondisi fisik (Rorty, 1979: 141-142).
Dasar kritik Rorty terhadap Descartes dan Locke adalah apa yang disebutnya dengan problematika epistemologi (epistemological problrmatic). Problrmatika epistemologi tersebut mengasumsikan bahwa Desacrtes dan Locke menggunakan istilah “idea” untuk menunjukkan sebuah objek khusus. Ide sebagai objek mental atau objek kesadaran menghadapi persoalan selubung ide (the veil of ideas) yang terletak antara yang menerima (manusia) dengan dunia luar yang bersifat fisik. Persoalannya bagi Rorty adalah bagaimana mencapai pengetahuan yang berada di baling selubung tersebut, Jika dipahami ide-ide merupakan representasi dari alam, dan alam tersebut dilihat dengan batin, lalu timbul persoalan yaitu bagaimana menyakini bahwa gambaran dari cermin (mirror of nature) secara tepat merefleksikan alam di luar diri (Rorty, 1979: 50).
Immanuel Kant juga tidak luput dari sasaran kritik Rorty. Bagi Rorty, Kant telah merubah pandangan pengetahuan yang bersifat empiris kepada pengetahuan apriori. Dalam pandangan Rorty, kant telah membentuk suatu formulasi teori pengetahuan setengah lebih maju dibandingkan dengan Descartes maupun Locke. Epistemologi Kant telah mengarah walau tidak sepenuhnya, pada konsep pengetahuan knowledge that (pengetahuan bahwa sesuatu itu begini atau begitu) secara mendasar ketimbang konsep pengetahuan knowledge of (pengetahuan tentang suatu objek). Meski demikian Rorty menyayangkan bahwa Kant masih berbicara dalam kerangka Cartesianisme yaitu tetap berkutat pada usaha untuk bagaimana kita mendapatkan pengetahuan dari dalam diri (inner space) terhadap dunia (external world).
Kerancuan pemikiran epistemologi Kant menurut Rorty adalah antara prediksi (melekat predikat pada subjek), dan sintesis (kegiatan memadukan dua hal yang berbeda). Konsep merupakan pemaduan (sintesis) secara a priori atas intuisi indera yang bersifat plural. Kepastian dan kebenaran pengetahuan dalam putusan sintesis a priori berdasarkan pada aktifitas akal budi melalui deduksi yang membentuk suatu objek. Hal tersebut merupakan pola pikir Cartesianyang berprinsip bahwa kepenaran rasional lebih terjamin kepastiannya ketimbang kebenaran empirs (Rorty, 1979: 148-150).
Demikianlah beberapa kerancuan-kerancuan fondasionalisme Cartesian-Lockian-Kantian menurut Rorty. Kerancuan-kerancuan tersebut akhirnya mendorong Rorty untuk mengatakan bahwa epistemologi tidak diperlukan lagi dan harus dihapus dari konstelasi pemikiran, dan filsafat harus ditempatkan sejajar dengan ilmu-ilmu lain.


0 Responses to “Richard Rorty: Kritik Terhadap Fondasionalisme”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: