08
Aug
09

Jean-François Lyotard dan Postmodernisme: Gugatan Terhadap Metanarasi

Oleh Arinto Nurcahyono

Postmodernisme, dalam ranah pengetahuan (knowledge), dimengerti oleh Lyotard sebagai ketidakpercayaan terhadap metanarasi (metanarrative) atau narasi besar (grand narrative). Selama ini (dalam abad modern) ilmu pengetahuan ilmiah atau sains, sebagai salah satu wacana (discourse), mengklaim dirinya sebagai satu-satunya jenis pengetahuan yang valid. Namun sains tak dapat melegitimasi klaim tersebut oleh karena ternyata aturan main sains bersifat inheren serta ditentukan oleh konsensus para ahli (ilmuwan) dalam lingkungan sains itu sendiri. Sains kemudian melegitimasi dirinya dengan merujuk pada suatu meta-wacana (meta-discourse); secara konkrit sains melegitimasi dirinya dengan bantuan beberapa narasi besar seperti dialektika Roh, heurmenetika makna, emansipasi subjek yang rasional, dan penciptaan kesejahteraan umat manusia. (Lyotard, 1989: xxiii).

Di era postmodern modus legitimasi semacam itu sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Bagi Lyotard sains terbukti hanyalah salah satu permainan bahasa (language game) di antara banyak permainan hanyalah satu jenis pengetahuan di antara aneka jenis pengetahuan lainnya. Oleh karena itu modus legitimasi pengetahuan dengan narasi besar di bawah satu ide untuk menciptakan satu kebenaran tunggal (totalisasi sistem pemikiran atau homology) harus diganti dengan paralogy, yaitu pengakuan akan aneka macam narasi kecil (little narrative) dan sistem pemikiran plural. (Lyotard, 1989: xxv)
Paralogi lebih memungkinkan untuk menganalisa kondisi masyarakat postmodern yang telah kehilangan narasi besarnya seperti rasionalisme, empirisme, materialisme, Idealisme, kapitalisme, sosialisme dan sebagainya. Realitas tidak bisa disatukan di dalam sebuah kerangka besar, karena setiap unsur yang ada bekerja dengan logikanya sendiri, dan setiap unsur bermain satu sama lain dengan bahasa masing-masing. Inilah permainan bahasa, language-game dengan demikian logika kondisi postmodern adalah pluralisme.
Menurut Lyotard pada era informasi di mana kerumitan dianggap semakin meningkat semakin jauhlah kemungkinan adanya penjelasan tunggal atau ganda tentang pengetahuan atau ilmu. Adanya penafikkan baik itu bentuk unifikasi naratif sebagai yang bersifat spekulatif maupun yang berbentuk emansipatoris, legitimasi terhadap pengetahuan tidak bias bersandar pada satu narasi besar, sehingga ilmu itu sekarang paling baik dipahami dalam pengertian “permainan bahasa”. Seperti yang dikemukakan oleh Lyotard:
“Ilmu pengetahuan tidak memiliki metabahasa umum di mana semua keberagaman bahasa lain dapat diterjemahkan dan dievaluasi…Tidak terdapat alasan untuk memikirkan adanya suatu kemungkinkan menentukan metapreskripsi yang berlaku bagi semua permainan bahasa itu atau bahwa suatu konsensus yang dapat direvisi seperti metapreskripsi yang berlaku pada waktu itu dalam masyarakat ilmiah yang dapat mencakup keseluruhan metapreskripsi yang mengatur pernyataan-pernyataan yang beredar dalam kolektifitas sosial”. (Lyotard, 1989: 64-5).

Sebuah permainan bahasa menunjukkan bahwa tidak ada konsep atau teori yang dapat menangkap bahasa dalam totalitasnya secara memadai jika upaya untuk melakukannya merupakan suatu permainan bahasa itu sendiri. Oleh sebab itu, di sini, permainan bahasa juga tidak bisa dipercaya karena mereka adalah bagian dari permainan bahasa yang juga anggota keberagaman permainan bahasa. Lyotard menulis tentang diskursus spekulatif sebagai suatu permainan bahasa – permainan dengan aturan-aturan tertentu yang biasa dianalisis dengan melihat keterkaitan pernyataan satu sama lain.
Analisis Lyotard mengenai permainan bahasa berasal dari Wittgenstein, pendekatan permainan bahasa dalam semangat Wittgenstein akan menyatakan eksistensi suatu jenis praktik bahasa dan ketiadaan metabahasa yang berlebihan. Pada permainan bahasa Wittgenstein, terdapat apa yang dinamakan peraturan, yakni ekspresi penggunaan yang selalu ada “di sana”. Seperti yang dinyatakan Wittgenstein, ‘terdapat cara untuk menangkap suatu peraturan yang bukan merupakan sebuah penafsiran, tetapi ditampilkan dalam apa yang disebut “mematuhi aturan” dan “menentangnya” dalam kasus-kasus aktual’. (Turner, 2000: 188 dikutip dari Wittgenstein, 1953: 201). Oleh karena itu menurut Wittgenstein tidak ada gunanya mencari persamaan dalam semua permainan. Tidak ada gunanya dan tidak mungkin juga untuk menunjukkan suatu permainan bahasa sebagai model atau ideal bagi semua permainan lain. (Bertens, 1983: 50).
Ada tiga karakteristik dalam setiap permainan bahasa. Pertama, setiap aturan dalam permainan itu tidak mendapatkan legitimasi dari dirinya sendiri melainkan merupakan hasil kontrak di antara pemainnya (eksplisit maupun tidak). Kedua, jika tidak ada aturan maka tidak ada permainan; suatu modifikasi kecil sekali pun terhadap sebuah peraturan akan mengubah permainan itu. Ketiga, setiap pernyataan harus dianggap sebagai suatu “move” dalam permainan. Karakteristik ketiga ini dipakai Lyotard sebagai prinsip pertama yang mendasari keseluruhan metodenya: mengeluarkan suatu pernyataan (move) adalah bertarung – dalam konteks suatu permainan – dan tindakan mengeluarkan pernyataan semacam itu berada dalam domain “general agonistic” (pertarungan pernyataan/argumentasi). Prinsip “pertarungan pernyataan” ini membawa Lyotard pada prinsip kedua, yakni bahwa ikatan sosial dari “move-move” bahasa (language “moves”). (Kristanto, 2002: 8)
Untuk dapat memahami kondisi pengetahuan dalam masyarakat yang sangat maju ini, Lyotard merasa perlu melihat model macam apakah yang dapat diterapkan terhadap masyarakat seperti itu. Model masyarakat sebagai satu keseluruhan organik (Durkheim) satu sistem fungsional (Parsons) dan suatu kesatuan yang tersusun dari dua kekuatan yang saling bertentangan (Marx) menurut Lyotard sudah tidak memadai lagi. Teori yang memandang masyarakat sebagai suatu totalitas fungsional menganggap seolah-olah masyarakat adalah sebuah mesin besar yang bekerja berdasarkan prinsip efisiensi. Kerinduan untuk membangun masyarakat teknokratis semacam itu merupakan akibat dari proyek modernitas yang ingin mencari kesatuan dan mentotalisasi kebenaran.(Lyotard, 1989: 13).
Cara memandang bentuk ikatan sosial atau model masyarakat ini mempengaruhi cara melihat status pengetahuan dalam masyarakat yang bersangkutan. Ketika masyarakat dimengerti sebagai sebuah mesin raksasa yang bekerja berdasarkan prinsip efisiensi demi performativitasnya (fungsionalisme), pengetahuan dilihat sebagai suatu elemen tak terpisahkan dari masyarakat yang berperan fungsional. Ilmu positif mendapatkan penghargaan di sini sebab ilmu jenis ini berkaitan langsung dengan teknologi yang menentukan kekuatan produksi sebuah sistem. Sementara itu ketika masyarakat dilihat sebagai dialektika dua kekuatan yang beroposisi, ilmu menempati fungsi kritis. Dalam hal ini yang mendapat tempat adalah jenis ilmu yang kritis, reflektif atau hermeneutika.
Namun demikian, cara memandang masyarakat seperti di atas menurut Lyotard sudah tidak dapat diterima lagi. Masyarakat sekarang adalah masyarakat post-industrial atau masyarakat konsumen. Fungsi negara telah berubah. Kelas yang berkuasa memang tetap kelas pengambil keputusan (decision makers). Namun sekarang ini pengambil keputusan bukan melulu terdiri dari para politisi seperti dalam pemahaman tradisional. Pengambil keputusan terdiri dari para pemimpin perusahaan, administrator tingkat tinggi, pemimpin-pemimpin organisasi kaum propfesional, buruh, politik, dan keagamaan. Mereka inilah yang memiliki akses informasi. Seorang individu dalam masyarakat maju berada di dalam suatu jaringan relasional yang makin kompleks dan terus bergerak (mobile). Setiap orang menempati suatu titik dalam sebuah sirkuit informasi atau berdiri dalam sebuah pos di mana berbagai macam pesan berlalu lalang. (Kristanto, 2002: 9).
Proses lalu lalang itu berlangsung dalam masyarakat yang – dalam istilahnya Lyotard – dicirikan oleh “pertarungan antar pernyataan” (agnotistic). Sebuah pernyataan (move) selalu memiliki efek pada setiap pemain dalam permainan bahasa ini baik dalam posisi addressee, referent, maupun sender. Setiap orang menurut Lyotard memang sudah selalu berada di tengah-tengah jaringan relasional semacam ini; baginya model yang tepat untuk menggambarkan bentuk ikatan sosial masyarakat kontemporer adalah model permainan bahasa ini. (Lyotard, 1989: 15).
Dalam situasi seperti ini sikap yang reaksional (sekedar merespon suatu move) bukanlah suatu move yang baik – tak ada keseimbangan kekuasaan. Yang baik adalah pemain selalu berusaha membuat suatu move yang tak terduga-duga. Pertarungan pernyataan semacam ini bukannya tanpa peraturan, namun peraturan yang ada seharusnya memungkinkan pernyataan-pernyataan itu mengalir bebas. Sebuah institusi, termasuk pengetahuan tak bisa memberi batasan mati terhadap move-move yang ada, sebab pembatasan itu sendiri hanya sebuah move dalam permainan.


1 Response to “Jean-François Lyotard dan Postmodernisme: Gugatan Terhadap Metanarasi”


  1. 1 jan
    March 14, 2010 at 3:23 pm

    bisa di bilang sbagai pencetus paham awal posmo


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: