04
Aug
09

MENATAP WAJAH KAPITALISME

Arinto Nurcahyono

Pendahuluan
Kapitalisme. Bagaimanakah wajahnya? Pertanyaaanya ini akan memunculkan pertanyaan baru. Wajah kapitalisme yang mana? Kapitalisme apakah semacam Dasa Muka tokoh dalam cerita Ramayana. Tidak sederhana untuk mendapatkan satu jawaban utuh tentang kapitalisme. Apalagi kapitalisme digugat kembali sosoknya ketika hadirnya krisis global. Seolah ada semangat kembali untuk menggugat kapitalisme.

Kapitalisme pada abad 20 menampakkan sosoknya yang katakanlah mendeklarasikan sebagai pemenang saat simbol runtuhnya Tembok Berlin. Saat itu tidak ada yang bisa membantah kedigdayaan rezim kapitalisme mendominasi peradaban dunia global. Berakhirnya Perang Dingin menyusul ambruknya komunisme-sosialisme Uni Soviet beserta negara-negara satelitnya sering diinterpretasikan sebagai kemenangan kapitalisme. Hampir dalam setiap sektor kehidupan, logika dan budaya kapitalisme hadir menggerakkan aktivitas. Kritik-kritik yang ditujukan terhadap kapitalisme justru bermuara kepada terkooptasinya kritik-kritik tersebut untuk lebih mengukuhkan kapitalisme.

Ironisnya, kalangan liberal yang menyematkan mahkota kemenangan kepada kapitalisme, lebih suka menggunakan kosakata Ekonomi Pasar (Market Economy). Tak tanggung-tanggung, Friedrich August von Hayek, nabinya kalangan neoliberal, menolak untuk menggunakan atau sekadar mendengar pengucapan kata kapitalisme.
Ironisme ini muncul, dengan beragam alasan. Misalnya, karena tak kunjung ada satu definisi memuaskan tentang apa itu kapitalisme. Kapitalisme memang bisa dibicarakan dari beragam sudut: ideologi, politik, ekonomi, sosial, atau budaya. Itu sebabnya, penggunaan kata yang mulai populer sejak akhir abad ke-19 ini, mengandung banyak bias. Tapi, ada alasan lain yakni, bersembunyinya kepentingan ideologis di balik penggunaan kata ekonomi pasar.
Karena itu, ada baiknya kita kembali sejenak ke akhir abad sembilan belas itu. Sejak hancurnya sistem masyarakat feodal, sebagian aspek dalam kehidupan manusia berkembang sangat pesat. Misalnya, meluasnya pemakaian uang dan hubungan pertukaran; perkembangan pesat hubungan pasar yang secara perlahan menjadikannya sebagai elemen penting dalam pabrik sosial; pertumbuhan cepat sektor perbankan, kredit, keuangan, dan spekulasi sebagai motor penggerak sektor produksi dan distribusi; berkembangnya hubungan baru yang kian kompleks antara seluruh aspek-aspek ekonomi tersebut dengan negara; peningkatan secara rasional dan sistemik mobilisasi pengetahuan keilmuan dan potensi tekknik yang bertujuan menciptakan komoditi-komoditi baru; serta harapan kelompok kaya dan mereka yang ingin menjadi kaya untuk mengembangkan kebutuhan-kebutuhan baru.
Namun kapitalisme tengah berada dalam krisis yang paling parah selama beberapa dekade ini. Kombinasi resesi yang dalam, dislokasi ekonomi global, dan nasionalisasi yang efektif meluas di sektor finansial di negara-negara paling maju di dunia, mengguncang keseimbangan antara pasar dan negara. Di manakah keseimbangan baru ini akan berjangkar, masih belum diketahui secara pasti.
Mereka yang meramalkan matinya kapitalisme harus berhadapan dengan satu fakta historis yang penting: kapitalisme punya kapasitas yang hampir tidak terbatas untuk mengubah diri. Sesungguhnya, kekenyalannya inilah yang membuatnya mampu mengatasi krisis yang terjadi berkala selama ini serta mengalahkan para pengecamnya, dari Karl Marx dan seterusnya. Pertanyaan riilnya bukan apakah kapitalisme bisa survive–ia bisa–melainkan apakah para pemimpin dunia bisa menunjukkan kepemimpinan yang diperlukan untuk membawa kapitalisme ke tahap berikutnya, sementara kita berupaya keluar dari kemelut yang kita hadapi saat ini.
Kapitalisme tidak punya pesaing yang setara dalam membebaskan dan mengerahkan energi kolektif manusia. Itulah sebabnya, semua masyarakat yang makmur di dunia ini kapitalistik dalam arti kata yang luas: masyarakat makmur itu terbentuk di sekitar kepemilikan swasta yang memungkinkan pasar memainkan peran yang besar dalam mengalokasikan sumber daya dan menetapkan imbalan ekonomisnya. Tapi baik hak kepemilikan maupun pasar ini tidak bisa berfungsi dengan kekuatannya sendiri. Mereka membutuhkan lembaga-lembaga pendukung lainnya.
Muncul pertanyaan lain, ke arah mana peradaban manusia akan dibawa oleh kapitalisme. Apakah gerangan yang menyebabkan ideologi ini tetap bertahan, dan bahkan, kian mendominasi dunia? Apakah hegemoni kapitalisme ini merupakan akhir sejarah umat manusia atau sebagai satu-satunya alternatif yang mesti diterima sebagaimana yang diperkirakan oleh Francis Fukuyama dalam The End of History? Masih berpeluangkah proyek emansipasi manusia dari dominasi kapital dan fetisisme komditas?
Tulisan ini tanpa berpretensi menampilkan secara utuh wajah kapitalisme ingin memaparkan segi yang mendasar tentang pengertian kapitalisme serta sejarah perkembangannya. Diharapkan dengan mengawali fase pengertian kapitalisme dapat dijadikan awal untuk diskursus kapitalisme yang lebih beragam baik yang melihat kekuatannya serta titik lemah menjadi arah kritik terhadap kapitalisme.

Pengertian dan Sejarah Kapitalisme
Bagi James Fulcher (2004) secara esensial kapitalisme pada dasarnya merupakan adanya kegiatan investasi modal dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan. Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang menekankan peran kapital (modal), yakni kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang-barang yang digunakan dalam produksi barang lainnya (Bagus, 1996). Ebenstein (1990) menyebut kapitalisme sebagai sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar sistem perekonomian. Ia mengaitkan perkembangan kapitalisme sebagai bagian dari gerakan individualisme. Sedangkan Hayek (1978) memandang kapitalisme sebagai perwujudan liberalisme dalam ekonomi.
Menurut Ayn Rand (1970), kapitalisme adalah “a social system based on the recognition of individual rights, including property rights, in which all property is privately owned”. (Suatu sistem sosial yang berbasiskan pada pengakuan atas hak-hak individu, termasuk hak milik di mana semua pemilikan adalah milik privat).
Heilbroner (1991) secara dinamis menyebut kapitalisme sebagai formasi sosial yang memiliki hakekat tertentu dan logika yang historis-unik. Logika formasi sosial yang dimaksud mengacu pada gerakan-gerakan dan perubahan-perubahan dalam proses-proses kehidupan dan konfigurasi-konfigurasi kelembagaan dari suatu masyarakat. Istilah “formasi sosial” yang diperkenalkan oleh Karl Marx ini juga dipakai oleh Jurgen Habermas. Dalam Legitimation Crisis (1988), Habermas menyebut kapitalisme sebagai salah satu empat formasi sosial (primitif, tradisional, kapitalisme, post-kapitalisme).
Ciri khas kapitalisme modern adalah produksi massa barang-barang untuk konsumsi massa. Akibat yang ditimbulkannya adalah kecenderungan menuju peningkatan standar hidup rata-rata secara kontinyu, suatu [proses] pengkayaan yang memajukan banyak orang. Kapitalisme membebaskan “orang biasa” dari status proletarnya dan meningkatkan harkatnya ke tingkat “borjuis”( Mises, 1972).
Dalam wilayah modernisme, Anthony Giddens menyatakan kalau modernitas disangga oleh kekuatan kapitalisme, negara bangsa, organisasi militer dan industrialisasi. Kapitalisme merujuk pada sejumlah prinsip struktural yang mendasari praktik akumulasi modal dalam konteks pasar produksi dan tenaga kerja yang kompetitif. Sedang negara-bangsa menunjuk pada prinsip struktural yang mengoordinasi praktik kontrol atas informasi, supervisi sosial dan pemata-mataan. Lalu militerisme menyangkut prinsip struktural yang mendasari praktik pengontrolan atas alat-alat kekerasan dalam konteks industrialisasi perang.(Herry Priyono, 2003)

Akhirnya industrialisme menyangkut prinsip struktural yang mendasari praktik-praktik yang bertujuan untuk mengubah alam atau pembangunan lingkungan non alami. Keempatnya merupakan tulang punggung yang menghamba pada modernitas dan darinya proses transformasi sosial masyarakat bekerja. Dalam konteks perbincangan kali ini, kapitalisme kiranya menjadi sistem yang berkait-erat dengan proses berjalin-kelindanya modal. Kapitalisme membawa dunia pada sistem perekonomian yang tunduk pada norma serta aturan pasar. Terobosan kapitalisme adalah membentuk sistem pasar yang hegemonik dimana kekuasaan privat juga memiliki kemampuan untuk mencipta pengaruh pada kawasan publik.

Adam Smith adalah peletak dasar pemikiran kapitalisme yang menjelaskan bekerjanya mekanisme hukum pasar atas dasar dorongan kepentingan-kepentingan pribadi karena kompetisi dan kekuatan individualisme dalam menciptakan keteraturan ekonomi. Melaluinya, kapitalisme melakukan klasifikasi antara nilai guna dengan nilai tukar yang ada pada setiap komoditi. Ukuran riil dari nilai tukar komoditi, harus dilihat dari kondisi pertukaran, dimana ‘ukuran riil’ dari nilai komoditi adalah kuantitas dari kerja yang berada dalam barang-barang lain yang dapat dipertukarkan di pasar. Tokoh berikutnya yang penting adalah David Ricardo, yang melakukan kritik terhadap Adam Smith, terutama yang berkaitan dengan nilai komoditi. Menurutnya, nilai komoditi terdapat pada kerja manusia berikut bahan-bahan mentah dan alat-alat kerja.
Sistem kapitalisme, menurut Ebenstein (1990), mulai berkembang di Inggris pada abad 18 M dan kemudian menyebar luas ke kawasan Eropa Barat laut dan Amerika Utara. Risalah terkenal Adam Smith, yaitu The Wealth of Nations (1776), diakui sebagai tonggak utama kapitalisme klasik yang mengekspresikan gagasan “laissez faire”1) dalam ekonomi. Bertentangan sekali dengan merkantilisme yaitu adanya intervensi pemerintah dalam urusan negara. Smith berpendapat bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh kemakmuran adalah dengan membiarkan individu-individu mengejar kepentingan-kepentingan mereka sendiri tanpa keterlibatan perusahaan-perusahaan negara (Robert Lerner, 1988).

Transformasi Kapitalisme
Bagi James Fulcher (2004), kapitalisme secara gerak perkembangan mengalami fase penyesuaian yang menjadikan kapitalisme bisa menyesuaikan dalam ruang dan waktu. Fase awal dapat dikatakan sebagai fase yang anarkis. Fase ini muncul sekitar abad 18 dan 19. Para pemilik modal pada era itu relatif melakukan keluasan atas kebebasan individu dalam kegiatan ekonomi. Tidak ada kontrol atau intervensi baik dari organisasi pekerja maupun dari negara. Fase anarkis menurut Fulcher memiliki karakteristik yang menempatkan kekebebasan individu.
Fase selanjutnya terjadi pada pertengahan abad 19 dan puncaknya pada tahun 1970, menurut Fulcher apa yang dinamakan managed capitalism. Kapitalisme tak dibiarkan menjadi liar dan anarkis. Faktor berbagai ketegangan dan tekanan memaksa kapitalisme merasakan apa yang dinamakan intervensi. Organisasi buruh menjadi salah satu faktor yang menjadikan pemilik modal mendapat tekanan. Yang menonjol adalah adanya kontrol negara. Konflik internasional juga memberikan peran yang menjadikan adanya kontrol negara yang tak dapat dihindarkan.
Awal abad 20 kapitalisme harus menghadapi berbagai tekanan dan ketegangan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Munculnya kerajaan-kerajaan industri yang cenderung menjadi birokratis uniform dan terjadinya konsentrasinya pemilikan saham oleh segelintir individu kapitalis memaksa pemerintah (Barat) mengintervensi mekanisme pasar melalui kebijakan-kebijakan seperti undang-undang anti-monopoli, sistem perpajakan, dan jaminan kesejahteraan. Fenomena intervensi negara terhadap sistem pasar dan meningkatnya tanggungjawab pemerintah dalam masalah kesejahteraan sosial dan ekonomi merupakan indikasi terjadinya transformasi kapitalisme. Transformasi ini, menurut Ebenstein, dilakukan agar kapitalisme dapat menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan ekonomi dan sosial. Lahirlah konsep negara kemakmuran (welfare state) yang oleh Ebenstein disebut sebagai “perekonomian campuran” (mixed economy) yang mengkombinasikan inisiatif dan milik swasta dengan tanggungjawab negara untuk kemakmuran sosial.
Habermas memandang transformasi itu sebagai peralihan dari kapitalisme liberal kepada kapitalisme lanjut (late capitalism. organized capitalism, advanced capitalism). Dalam Legitimation Crisis (1988), Habermas menyebutkan bahwa state regulated capitalism (nama lain kapitalisme lanjut) mengacu kepada dua fenomena: (a) terjadinya proses konsentrasi ekonomi seperti korporasi-korporasi nasional dan internasional yang menciptakan struktur pasar oligopolistik, dan (b) intervensi negara dalam pasar. Untuk melegitimasi intervensi negara yang secara esensial kontradiktif dengan kapitalisme liberal, maka menurut Habermas, dilakukan repolitisasi massa, sebagai kebalikan dari depolitisasi massa dalam masyarakat kapitalis liberal. Upaya ini terwujud dalam sistem demokrasi formal.
Sejarah kapitalisme merupakan proses belajar dan belajar lagi. Masyarakat pasar yang diidam-idamkan Adam Smith membutuhkan tidak lebih dari suatu “negara jaga malam” saja. Apa yang perlu dilakukan pemerintah untuk menjamin adanya division of labor atau pembagian kerja cukup dengan menegakkan hak kepemilikan, menjaga ketertiban, dan memungut pajak untuk membiayai program-program yang terbatas untuk kebaikan publik.
Selama awal abad ke-20, kapitalisme diatur oleh visi lembaga-lembaga publik yang sempit yang diperlukan untuk mendukungnya. Dalam prakteknya, jangkauan negara sering melampaui konsepsi ini (seperti, katakan, dalam kasus pensiun hari tua yang diperkenalkan Bismarck di Jerman pada 1889). Tapi pemerintah tetap memandang peran yang dimainkannya dalam perekonomian dalam lingkup yang terbatas.
Semua mulai berubah ketika masyarakat berkembang menjadi lebih demokratis dan serikat buruh serta kelompok-kelompok lainnya memobilisasi diri melawan penyalahgunaan yang menurut mereka dilakukan oleh kapitalisme. Kebijakan antimonopoli dimulai di Amerika Serikat. Kegunaan kebijakan moneter dan fiskal yang aktivis ini diterima secara luas setelah terjadinya Depresi Besar. Pangsa belanja publik dalam pendapatan nasional meningkat dengan cepat di negara-negara industri dari rata-rata di bawah 10 persen pada akhir abad ke-19 menjadi lebih dari 20 persen sesaat sebelum Perang Dunia II. Dan setelah perang, sebagian besar negara menerapkan kebijakan kesejahteraan sosial yang menyerap rata-rata lebih dari 40 persen pendapatan nasional ke dalam sektor publik.
Model “ekonomi campuran” ini merupakan mahkota pencapaian abad ke-20. Keseimbangan baru antara negara dan pasar ini membuka jalan bagi era kohesi sosial, stabilitas, dan kemakmuran di negara-negara maju yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang berlangsung sampai pertengahan 1970-an. Model ekonomi campuran in mengurai mulai 1980-an dan seterusnya dan sekarang tampaknya sudah ambruk. Alasan ambruknya model ekonomi ini dapat dinyatakan dalam satu kata: globalisasi.
Ekonomi campuran pascaperang ini dibangun untuk dan berjalan pada level nation-state. Ia membutuhkan terkendalinya ekonomi internasional. Rezim Bretton Woods-GATT menuntut adanya suatu bentuk integrasi ekonomi internasional yang “dangkal” serta kontrol atas arus modal internasional yang, menurut John Maynard Keynes dan ekonom sezamannya, krusial bagi pengelolaan ekonomi dalam negeri. Negara-negara diminta melakukan liberalisasi perdagangan yang terbatas seadanya saja dengan memberikan banyak kekecualian bagi sektor-sektor yang dianggap sensitif dalam masyarakat (pertanian, tekstil, jasa). Kebijakan ini membiarkan negara-negara bebas membangun versi kapitalisme nasional mereka sendiri, selama mereka mematuhi beberapa aturan internasional yang sederhana saja sifatnya.
Krisis yang terjadi saat ini menunjukkan betapa jauh kita sudah beranjak dari model tersebut di atas. Globalisasi finansial, terutama, telah mengacaukan aturan yang lama. Ketika kapitalisme gaya Cina bertemu dengan kapitalisme gaya Amerika, tanpa katup pengaman yang memadai, terjadilah campuran yang eksplosif. Tidak ada mekanisme pelindung untuk mencegah berkembangnya banjir likuiditas global, dan kemudian, beserta gagalnya regulasi di Amerika Serikat, timbulnya booming perumahan yang spektakuler dan meletusnya gelembung tersebut. Begitu juga tidak ada perintang jalan internasional untuk mencegah menjalarnya krisis dari titik pusatnya.

Penutup
Money makes money, barangkali sebuah nilai yang dapat secara substantif menjadi karakter kapitalisme. Didalamnya memiliki energi tambahan yakni menempatkan kebebasan individu sebagai motor penggerak. Namun wajah asli kapitalisme seperti waktu kelahirannya tampak selalu berubah. Dari fase yang dikatakan Fulcher dengan kapitalisme anarkis sampai pada managed capitalism, atau dalam bahasa Habermas dinamakan Late Capitalism atau dalam wajah kapitalisme yang lebih manusiawi dinamakan dengan wellfare state.
Lalu bagaimanakah posisi para penentang kapitalisme. Untuk menyebutkan ide-ide Marx dengan harapan adanya kemenangan kaum proletar dipastikan sudah ada di alam kubur. Wacana ekonomi kerakyatan dan ekonomi Islam masih melakukan usaha untuk kancah peran. Namun energi yang dimiliki apakah sekuat energi yang dimiliki kapitalisme. Untuk itu ada baiknya menengok pemikiran Iqbal saat manusia ingin mencapai sesuatu. Bahwa manusia dalam pencapaian dari potensius menuju aktus. Menurut Muhammad Iqbal, periode kehidupan religius melalui masa faith (kepercayaan), kemudian thought (pemikiran) dan lantas discovery (penemuan). Penemuan ini adalah sampainya manusia pada Realitas Tertinggi (M. Iqbal, 1984).

Referensi
1. Ebenstein, W., Isme-Isme Dewasa Ini, (terjemahan), Erlangga, Jakarta, 1990.
2. Fulcher, James.,Capitalism: A Very Short Introduction, Oxford University Press, 2004
3. Habermas, J., Letigimation Crisis, Polity Press, Cambridge Oxford, 1988.
4. Hayek, F.A., The Prinsiples of A Liberal Social Order, dalam Anthony de Crespigny and Jeremy Cronin, Ideologies of Politics, Oxford University Press, London, 1978.
5. Heilbroner, R.L., Hakikat dan Logika Kapitalisme, (terjemahan), LP3ES, Jakarta, 1991.
6. Lerner, R.E., Western Civilization, Volume 2, W.W. Norton & Company, Ney York-London, 1988.
7. Mangunwijaya, Y.B., Mencari Landasan Sendiri, Esei Pada Harian Kompas 1 September 1998, Jakarta.
8. Marcuse, H., One Dimensional Man, Beacon Press, Boston, 1991.
9. Murchland, B., Humanisme dan Kapitalisme, (terjemahan), Tiara Wacana, Yogyakarta, 1992.
10. Rand, A., Capitalism: The Unknown Ideal, A Signet Book, New York, 1970.


3 Responses to “MENATAP WAJAH KAPITALISME”


  1. July 30, 2013 at 5:39 am

    When I originally left a comment I seem to have
    clicked on the -Notify me when new comments are added- checkbox and from now on every time a comment is
    added I recieve 4 emails with the same comment. Perhaps there is an
    easy method you are able to remove me from that service?
    Thanks a lot!

  2. August 6, 2013 at 12:23 am

    Definitely believe that that you said. Your favorite reason appeared to be at
    the internet the easiest thing to take into account of.
    I say to you, I definitely get annoyed at the same time as other
    people consider concerns that they just don’t know about. You managed to hit the nail upon the top as neatly as defined out the whole thing with no need side effect , folks could take a signal. Will probably be back to get more. Thank you

  3. August 12, 2013 at 8:48 pm

    Great blog! Is your theme custom made or did you download it from
    somewhere? A design like yours with a few simple adjustements
    would really make my blog shine. Please let me know
    where you got your design. Thank you


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: