13
Mar
10

Positivisme Hukum John Austin (1790-1859)

Arinto Nurcahyono

Dilahirkan pada tahun 1790, di Sufflok, dari keluarga kaum pedagang. Austin pernah berdinas di tentara, dan ditugaskan di Sisilia dan Malta. Namun ia juga mempelajari hukum. Pada tahun 1818, ia bekerja sebagai advokat. Tapi ia tidak menjalaninya  secara serius. Ia belakangan meninggalkan pekerjaan itu, pindah menjadi seorang ilmuwan hukum. Pada tahun 1826 hingga 1832, ia bekerja sebagai guru besar bidang jurisprudence di London University. Sesaat setelah mengundurkan diri sebagai profesor, ia banyak menjabat jabatan-jabatan penting di lembaga-lembaga kerajaan. Misalnya ia pernah bekerja di Criminal Law Commission dan Royal Commisioner untuk Malta. Continue reading ‘Positivisme Hukum John Austin (1790-1859)’

13
Mar
10

Positivisme Hukum

Arinto Nurcahyono

Adalah seorang Prancis yang bernama Saint Simon (1760-1825), istilah positivisme digunakan pertama kali sebagai metode dan sekaligus merupakan perkembangan dalam aras pemikiran filsafat. Istilah ini kemudian mendapat sambutan luas setelah diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut olrh pemikir Prancis lainnya Auguste Comte (1789-1857). Melalui Comte, positivisme berkembang menjadi gerakan filsafat yang sangat berpengaruh  pada paro kedua abad ke-19 dan dekade pertama abad ke-20 dalam lingkungan Dunia Barat. Continue reading ‘Positivisme Hukum’

12
Nov
09

Etika Lingkungan Hidup Sebagai Landasan Kebijakan Yang Berpihak Terhadap Kelestarian Lingkungan

Oleh : Arinto Nurcahyono

A. Pendahuluan

Krisis lingkungan hidup yang dihadapi manusia modern merupakan akibat langsung dari pengelolaan lingkungan hidup yang “nir-etik”. Artinya, manusia melakukan pengelolaan sumber-sumber alam hampir tanpa peduli pada peran etika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa krisis ekologis yang dihadapi umat manusia berakar dalam krisis etika atau krisis moral. Continue reading ‘Etika Lingkungan Hidup Sebagai Landasan Kebijakan Yang Berpihak Terhadap Kelestarian Lingkungan’

29
Aug
09

Idealisme ala Hegel

Oleh: Arinto Nurcahyono

Idealisme Jerman memuncak pada Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Karyanya yang paling monumental berjudul Phänomenologie des Geistes (Fenomenologi Roh) yang diterbitkan tahun 1807. Penamaan Phänomenologie diberikan karena merupakan presentasi tentang penampakkan benda-benda di dalam kesadaran kita dan tentang bentuk-bentuk kesadaran itu sendiri. Akan tetapi kesadaran di sini tidak dilihat terpisah dari objek, karena keduanya sebenarnya merupakan penampakan dari yang absolut yang merupakan realitas yang paling real. (Hardiman, 2002: 2).

Continue reading ‘Idealisme ala Hegel’

22
Aug
09

Sekilas tentang Modernisme

Oleh : Arimto Nurcahyono

Kata modern menurut Hans Robert Jauss (1964) dalam sebuah artikel berjudul “Asthetische Normenund geschichtliche Reflecxion”, seperti dikutip Habermas yang menyebutkan bahwa istilah “modern”  berasal dari bahasa Latin “modernus” yang digunakan pertama kali pada akhir abad ke-5,  dan  digunakan sebagai batas sejarah, yaitu antara era Roma yang menyembah berhala (Pagan era) dengan era Kristen yang menyembah Tuhan. (Habermas, 1993: 98). Namun sayangnya penjelasan secara etimologi ini tidak menampakkan pengertian yang sesungguhnya dari modernisme itu sendiri.

Continue reading ‘Sekilas tentang Modernisme’

22
Aug
09

Apakah Pencerahan itu? (Was ist Aufklärung?)

Oleh:  Arinto Nurcahyono

Apakah Pencerahan itu?. Pertanyaan itu dijadikan judul esai Immanuel Kant  “Was ist Aufklärung?” yang dimuat pada Jurnal Berlinische Monastschrift pada bulan September 1784. Menurut Kant:

“Pencerahan adalah pembebasan manusia dari ketidakdewasaan  yang dibuatnya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan  untuk mempergunakan pengertiannya sendiri tanpa bimbingan orang lain. Ketidakdewasaan ini dibuatnya sendiri bila  penyebabnya bukannya pada kurangnya pikiran melainkan kurangnya ketegasan dan keberanian untuk mempergunakan pikiran itu tanpa bimbingan orang lain. Sapere Aude! Beranilah mempergunakan pikiranmu sendiri! Itulah semboyan pencerahan”.

Continue reading ‘Apakah Pencerahan itu? (Was ist Aufklärung?)’

21
Aug
09

Kant : “Sang Pemutarbalikan Copernican” (Kopernikanische Wende)

Oleh:  Arinto Nurcahyono

Memasuki abad 18 dikenallah apa yang disebut dengan “zaman Pencerahan” (bhs. Jerman Aufklärung; bhs. Inggris: Enlightenment). Nama ini diberikan karena manusia mulai mencari cahaya baru di dalam rasionya sendiri. Dan filsuf terbesar pada era Pencerahan, siapa lagi kalau bukan Immanuel Kant (1724-1804). Tentang Pencerahan itu sendiri seperti yang telah disebutkan sebelumnya,  Kant mengatakan bahwa orang keluar dari keadaan tidak akil-balig (Unmündigkeit), yang dengannya ia sendiri bersalah. Kesalahan itu terletak dalam keengganan atau ketidakmauan  manusia untuk memanfaatkan rasionya: orang lebih suka berpaut pada otoritas di luar dirinya (wahyu ilahi, nasihat orang terkenal, ajaran gereja atau negara). Berhadapan dengan sikap ini, Pencerahan bersemboyan: Sapere Aude!, yang berarti: Beranilah berpikir sendiri!. Dengan demikian, Pencerahan merupakan tahap baru dalam proses emansipasi Barat yang telah dimulainya sejak Renaissance. Continue reading ‘Kant : “Sang Pemutarbalikan Copernican” (Kopernikanische Wende)’