21
Aug
09

Historisitas Filsafat Ilmu: Jejak Langkah Pemikiran Dari Era Yunani Hingga Postmodernisme

Oleh: Arinto Nurcahyono

A. Pendahuluan
Ilmu adalah fenomena terbesar yang paling mewakili wujud kemanusiaan. Perkembangannya yang begitu cepat dan terus menerus mengalami percepatan dan menakjubkan. Bisa dikatakan, saat ini ilmu merupakan ikon keberadaban. Siapapun yang tidak berilmu (=tidak menguasai ilmu) identik dengan keprimitifan dan keterbelakangan. Tidak mengherankanm kalau semua unsur kemanusiaan (pribadi, kelompok primordial dan negara) berusaha intensif untuk “memilikinya”.
Dengan demikian, penguasaan dan transformasi ilmu menjadi kemuskilan mendasar. “Ketika mempelajari sebuah ilmu, bersiaplah untuk memaafkan ilmu tersebut,” demikian ungkapan bijak dari seorang filsuf Prancis. Memang, ilmu bukanlah segalanya. Ilmu tak lebih dari alat yang, sebagaimana diketahui, tidak mampu memikirkan dan mengontrol dirinya sendiri. Ia membutuhkan “yang Lain”, dalam hal ini adalah filsafat. Hingga lahirlah cabang filsafat: Filsafat Ilmu. Dengan demikian, filsafat Ilmu merupakan medium yang layak untuk memperbincangkan ilmu. Filsafat ilmu adalah cabang filsafat. Dalam kaitannya dengan ilmu, ia tak lebih dari model pandang atau perspektif filosofis terhadap ilmu.
Pada penelitian ini penulis melakukan pelacakan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dalam hal ini pelacakan yang lebih berfokus pada historisitas filsafat ilmu di dunia Barat. Pilihan terhadap perspektif historis karena pada hakekatnya manusia menganggap dirinya sebagai faber mundi atau makhluk yang menciptakan dunianya (Hamersma, 1986:3). Tantangan alam sudah dikatakan teratasi berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat meningkatnya kesadaran; manusia tidak saja mampu mengontrol dunia fisis tetapi juga menentukan tujuan jalan sejarahnya atas tanggung jawab sendiri dengan segala konsekuensinya, manusia sudah sanggup melenyapkan takdir dan nasib malang yang pernah menghambat kebebasannya. Manusia sudah dipandang sebagai makhluk otonom, bebas, dan mandiri. Akan tetapi, untuk sampai pada kesadaran faber mundi, manusia memerlukan waktu yang cukup lama, di antaranya memahami masa lampau dalam pengertian seluas-luasnya guna menjaga hari ini agar berlanjut sampai masa akan datang, seperti diungkapkan Agnes Heller dalam bukunya, A Theory of History:
We always enclosed in the time and space between the beginning and the end, between the past and the future (Heller, 1982:39).

Hari ini adalah besoknya kemarin, jika kemarin kacau, maka hari ini juga tidak lebih daripada itu. Apa pun yang terjadi pada masa sekarang tidak terlepas dari masa lampau, dan ini juga akan berdampak terhadap masa akan datang. Manusia bukan hanya produk perputaran waktu, tetapi juga mengadakan sejarah. Setiap individu pada dasarnya mempunyai keterlibatan dan komitmen terhadap setiap peristiwa yang dilihat atau yang dialaminya sehingga tidak hanya bersikap pasif, tetapi juga sebagai aktor yang berperan aktif dalam setiap peristiwa. Dengan perkataan lain, manusia itu pelaku sekaligus pejuang dalam sejarah.
Perumusan masalahnya adalah bagaimanakah fase-fase yang ada dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan karakteristik apa saja yang ada di dalamnya. Metode yang digunakan yakni kesinambungan historis yang deskriptif dan reflektif. Adapun tujuan dari makalah ini memberikan pemahaman yang holistik tentang ilmu pengetahuan setidaknya memberikan wawasan yang lebih luas dan sistematik sehingga pemikiran kita tidak hanya bersifat satu dimensi.
B. Pembahasan
Berkenaan dengan penelitian, fase-fase yang akan disebutkan kemudian mengindikasikan perkembangan yang terus menerus dalam rangka mencari kebenaran dan pengetahuan dari masa ke masa. Perkembangan ilmu pengetahuan yang dirasakan sekarang terjadi secara bertahap. Sejarah perkembangan tersebut umumnya berfokus pada periodesasi Barat yang memilah-milahnya dalam beberapa periode, seperti periode Yunani; Pertengahan; Renaissance; dan Modern. Tiap-tiap periode memiliki karakteristik tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
1. Periode Yunani
Periode ini dianggap sebagai kebangkitan pemikiran manusia dalam meruntuhkan corak mitologis yang menjadi karakteristik zaman sebelumnya. Selama berabad-abad, orang-orang Yunani mempertahankan dan mempercayai mitologi berupa agama rakyat dan kebudayaan yang meliputi Pantheon dewa-dewi Olympian dan para pahlawan mitologis seperti Zeus, Hercules, dan Apollo yang seolah-olah historis. Lahirnya filsafat Yunani karena menekankan pada pentingnya dan orisinalitas pemikiran manusia. Para filsuf awal seperti Thales, Anaximandros, dan Anaximenes mempersiapkan bahan mentah yang banyak dalam penekanan pentingnya teori mengenai kosmos dan status matematika sebagai pengetahuan ideal.
Menurut Hassan (1996:14), karakteristik menonjol periode ini ditujukannya perhatian pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai upaya menemukan asal segala sesuatu (arché) yang merupakan unsur awal terjadinya segala gejala. Para filsuf membedakan penampilan (appearance) dengan hakikat (essence) suatu perwujudan. Penampilan dapat berubah-ubah menurut sudut pandang dan tergantung pada modus keberadaan suatu gejala, sedangkan hakikat tetap, tidak terpengaruh, dan mandiri.
Thales (625-545) misalnya, tidak mempergunakan kepercayaan umum ketika menanyakan asal segala sesuatu itu, tetapi berdasarkan pengalaman ketika berkelana sampai ke Mesir dan melihat betapa tergantungnya rakyat Mesir pada air sungai Nil. Thales menyimpulkan segala sesuatu itu berasal dan kembali ke air. Tokoh lain adalah murid Thales, Anaximandros (610-547) dan muridnya; Anaximenes (585-528). Anaximandros berpendapat segala sesuatu berasal dari yang satu, yakni Apeiron atau yang tidak terbatas, sedangkan Anaximenes berpendapat segala sesuatu itu berasal dari udara (Hatta, 1986:7-12).
Kendati pendapat para filsuf alam di depan menggelikan bagi orang sekarang, akan tetapi, lebih penting daripada itu adalah mereka telah memulai babak baru pemikiran manusia. Pertanyaan para filsuf dan jawaban yang diberikan mereka merupakan hal yang baru pada zamannya, bahwa sesuatu tidak begitu saja ada, seperti dianut kebanyakan orang, tetapi terjadi dari katakanlah air, apeiron, udara, dan sebagainya. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh sikap orang Yunani yang tidak dapat menerima pengalaman-pengalaman secara pasif-reseptif, menerima apa adanya, selain itu, mereka mempunyai sikap dan pemikiran kritis (an inquiring attitude and an inquiring mind) sebagai perintis ilmu pengetahuan modern.
Plato memandang apa pun di dunia sekarang pada dasarnya sudah pernah dijalankan di “dunia sana,” terserah manusia di dunia ini membuktikannya, manusia sekedar mengulang-ulang atau mengingat kembali yang dahulu pernah dilakukan. Berkaitan dengan maksud ini, realitas menurut pandangan Plato dibagi menjadi dua dunia. Pertama, dunia yang terbuka bagi rasio. Kedua, dunia yang terbuka bagi panca indra. Dunia fisik yang dirasakan indera adalah keadaan yang terus-menerus berubah sedangkan realitas yang disadari oleh rasio bersifat abadi. Manusia termasuk kedua dunia tersebut karena mengenalnya. Melalui rasio, manusia dapat memurnikan dugaan-dugaan tentang ide universal sehingga mendekati realitas sesungguhnya. Plato mendamaikan kontradiksi antara pemikiran Parmenides dan Heraclitus; yang satu terfokus pada dunia ide saja dan yang lain pada jasmani.
Aristoteles adalah murid Plato. Filsafat yang dikembangkan Aristoteles terpusat pada persoalan benda dan bentuk. Aristoteles memisahkan yang absolut antara ide dan kenyataan lahir karena bentuk turut serta memberikan kenyataan kepada benda; benda yang lahir adalah barang yang berbentuk (Hatta, 1986:126). Segitiga, anjing, dan pohon tidak semu sebagaimana anggapan Plato, melainkan realitas sesungguhnya. Alam ini tidak bisa tidak ada. Alam adalah suatu cetakan ontologis yang tidak mungkin fana.
Aristoteles mengajukan sejumlah dalil yang menentang habis teori dunia ide Plato. Aristoteles menegaskan ide atau bentuk bersifat individual dan mustahil bersifat umum: jika bentuk “manusia” memang berdiri sendiri, berarti bentuk ini merupakan individu, sebagaimana individu konkret yang bernama Socrates. Itu sebabnya mengapa diperlukan manusia ketiga sebagai proto type, baik bagi “manusia” tadi maupun bagi individu Socrates (Bertens, 1999:187).
Pendekatan Plato terhadap dunia secara hakiki bersifat religius. Pendekatan Aristoteles cenderung ilmiah. Itulah sebabnya mengapa Aristoteles tidak sependapat jika dunia yang manusia huni ini semu. Aristoteles memang setuju jika anjing tertentu berubah dan tidak ada anjing yang hidup untuk selamanya. Aristoteles juga setuju jika bentuk nyata anjing itu abadi, tetapi anjing ide adalah konsep yang dibentuk oleh manusia setelah melihat beberapa anjing tertentu. Dengan perkataan lain, anjing ide tidak memiliki eksistensinya sendiri.
Secara garis besar, Ilmu Pengetahuan pada masa Yunani masih bersifat filosofis; Thales dan murid-muridnya berangkat dari bahan dasar yang satu, kaum Pythagorian berdasarkan angka-angka, dalam filsafat spekulatif Plato berarti adanya ketentuan dari dunia sana dan harus dijalankan di dunia sini, sedangkan Aristoteles melihat dengan kondisi riil inilah, orang selanjutnya menentukan yang lebih baik untuk masa yang akan datang. Kendati masih sangat spekulatif, tetapi ciri keilmuannya mulai muncul. Filsafat dan ilmu pengetahuan cukup sulit didefinisikan mengingat pada awalnya, ilmu pengetahuan masih menyatu dengan filsafat. Aristoteles misalnya, membicarakan berbagai bidang seperti: biologi, fisika-dan metafisika, dan politik. Para filsuf Yunani paling tidak sudah melakukan semacam observasi, mengembangkan, membuat dugaan-dugaan, dan kesimpulan-kesimpulan sehingga tampak sistematis.
2. Periode Pertengahan
Para penulis sebagian besar berpendapat periode ini meliputi kurun waktu dari beberapa tahun sebelum tahun 500 Masehi hingga beberapa tahun setelah tahun 1500 Masehi dengan mengambil patokan beberapa peristiwa penting di Eropa, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang sosial (Semiawan dkk., 1999:15).
Periode ini kadang disebut juga Abad Kegelapan sebab filsafat dan berbagai cabang keilmuan menjadi semacam ancilla theologiae (budak teologi) yang mengabdi kepada agama, terutama dengan kehadiran dewan gereja. Semua pandangan filsafat dan ilmu pengetahuan harus diuji sejauh tidak berlawanan dengan ajaran agama dan pentafsiran yang dikembangkan dalam lingkungan gereja. Penalaran dibolehkan, tetapi disesuaikan dan diabdikan pada keyakinan beragama. Tindakan keimanan dibedakan secara tegas dari tindakan penalaran; jika terjadi perbedaan antara keduanya, maka keimanan harus dijadikan pemenang.
Dalam perspektif pemikiran Augustine (354-430) misalnya, sejak jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa, maka sejak itulah negara sekuler mulai menampakkan diri dalam wujud nyata. Menurut Augustine, semua makhluk adalah vestigia dei (jejak-jejak Tuhan) yang menyatakan bahwa Tuhan telah lewat, dan puncaknya pada manusia sebagai citra Tuhan. Augustine juga berpendapat bahwa situasi buruk yang dialami manusia karena adanya pertempuran antara kedua negara ini; civitas terrena (negara dunia) dan civitas dei (dunia Tuhan) yang diwakili oleh gereja (Verhaak, 2000:34-35).
Pandangan tersebut dilanjutkan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) yang mencoba membangun sintesis antara pemikiran Kristiani dan filsafat Aristotelian tempat kebenaran iman dan rasio saling melengkapi. Dalam pandangan Thomas Aquinas, eksistensi Tuhan dapat dibuktikan melalui lima jalan; 1) gerak, segala sesuatu bergerak dan karena ada gerak maka mesti ada penggerak pertama; 2) Penyebab efisien, suatu peristiwa disebabkan oleh pengaruh yang lain; 3) Ketergantungan alam karena alam tidak mungkin tidak terbatas; 4) Gradasi kesempurnaan seperti “ini lebih baik dari yang itu”; 5) teleologis karena objek-objek anorganik berjalan menuju suatu tujuan, dengan kata lain, pasti ada yang maha cerdas yang mengarahkan tujuan itu (Collinson, 2001:51-52). Thomas Aquinas, kendati menunjukkan filsafat dan teologi dapat berjalan berdampingan, tetapi secara keseluruhan tetap cenderung kepada perlunya ilham sebagai karunia khusus yang datang dari Tuhan.
Penentangan terhadap gereja membawa korban. Contoh menarik adalah peristiwa yang menimpa Galileo yang dipaksa bertobat oleh gereja karena mendukung prinsip heliosentrisme Copernican yang menggantikan prinsip geosentrisme Ptolemaus; bumi mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya. Begitu pula terhadap Bruno yang dibakar hidup-hidup karena dianggap ajaran tersebut tidak sesuai dengan yang termaktub dalam teks-teks Kitab Suci yang diinterpretasikan kaum agamawan (Robertson, 1943:47). Para ilmuwan ini, kendati tragis jalan hidupnya, sampai sekarang hampir tidak seorangpun membantah pendapat mereka.
Determinisme pada Abad Pertengahan bercorak teologis sebagai akibat kekuasaan kaum agamawan yang bersifat intoleran terhadap pemikiran bebas. Kendati demikian, di balik ini semua, lambat laun akan terjadi perpisahan antara agama dan dunia yang membuat ilmu pengetahuan yang dihasilkan dan dikembangkan manusia tampil ke permukaan dengan independensi mutlak.
3. Periode Renaissance
Munculnya Renaissance merupakan bantingan terhadap perspektif kebudayaan di Barat yang sama kerasnya dengan bantingan gambaran sistem planet tradisional oleh Copernicus. Renaissance menemukan serta menghargai kembali kebudayaan pra-Kristiani, Yunani dan Romawi, tetapi tidak dengan kembali ke alam kosmosentris mereka. Bagi Renaissance, alam Yunani dan Romawi membuka pandangan mereka tentang manusia. Manusia ditempatkan ke dalam pusat. Lahirlah humanisme dengan uomo universale, manusia universal, sebagai cita-citanya. Statika paham realitas sebagai tatapan alam semesta theosentris yang selaras diganti dengan dinamika perkembangan di mana manusia sebagai subjek mengangkat kepalanya berhadapan dengan ciptaan lain. Manusia telah kehilangan kepolosannya sebagai salah satu warga alam raya. Ia tidak lagi memahami diri sebagai musafir yang untuk beberapa saat menjelajah dunia, sampai ia dipanggil kembali oleh Yang Menempatkannya di situ, melainkan sebagai homo faber, manusia yang melanjutkan dan meneruskan penciptaan dunia. Manusia yang melihat dunia sebagai tantangan dan tugasnya, yang semakin yakin bahwa ia harus memberikan bentuk dan capnya kepada dunia. Manusia bukan lagi salah satu substansi dalam dunia, melainkan sebagai subjek berhadapan dengan dunia. (Suseno, 1992: 62).
Ada kesepakatan dalam semua lingkungan pemikiran, bahwa modernisme merupakan satu kekuatan terbesar dalam sejarah. Satu kekuatan pemacu perkembangan peradaban umat manusia yang hampir tidak ada presedennya di masa lampau. Bumi yang hari ini dihuni adalah sebuah planet yang terus bergejolak dengan berbagai perubahan radikal, menghadirkan ketidakpastian dalam sebuah krisis besar peradaban. Krisis yang konon bahkan jauh lebih hebat daripada yang pernah terjadi pada Abad V sebelum Masehi yang sempat menghasilkan para rasul di Timur Tengah dan para filsuf di Yunani. Krisis ini akhirnya justru memunculkan semangat pencerahan pertama untuk melakukan demitologisasi. Modernisme telah membawa bagian terbesar umat manusia ke dalam sebuah realitas dunia yang tak terjangkau bahkan oleh mimpi-mimpi paling liar manusia “primitif”.
Radikal dan pesatnya perkembangan peradaban seperti itu, tak pelak lagi merupakan prestasi manusia yang berjejak panjang. Confusianisme, Budhisme, Ibrahimisme atau tafakur-tafakur etik para filsuf Yunani sampai sekarang tetap dianggap sebagai tonggak-tonggak pertama kegairahan umat manusia dalam memahami dunianya secara lebih rasional. Jika sebelumnya alam dianggap sebagai kekuasaan sejati di atas manusia, maka agama telah memperkenalkan konsepsi tentang Tuhan sebagai pemilik kekuasaan absolut atas segala hal. Sementara alam adalah ruang bagi manusia untuk mewujudkan eksistensi keinsanannya. Subordinasi alam di bawah manusia boleh jadi bermula dari sini.
Pendobrakan filosofis semacam itu pada gilirannya mengakarkan bentuk relasi subjek (rasio)-wacana-dunia. Manusia memahami dunia di luar dirinya melalui wacana pengetahuan. Pada Socrates atau para filsuf yang lain, wacana pengetahuannya berupa kuriositas filosofis yang pertama-tama mencoba menggoyahkan fondasi keyakinan terhadap mitos-mitos tradisional. Sementara pada Ibrahim atau para rasul lainnya, wacana tersebut berupa seperangkat postulat transendental sebagai sebuah metode (rasional kritis) untuk mendobrak dogma-dogma kepercayaan pada benda-benda sebagai representasi Yang absolut. Puncak keragu-raguan tersebut, boleh jadi terjadi pada kesangsian yang dilontarkan René Descartes. Pada yang terakhir ini, seperti halnya pada diri Francis Bacon, keraguan diformulasikan menjadi sebentuk usaha investivigasi metodologis dalam memeriksa realitas dunia. Wacana pengetahuan telah berkembang menjadi ilmu pengetahuan tentang alam (ilmu alam). (Budiman, 1997: 22).
Melalui proses modernisasi, berlangsung suatu peristiwa mutasi historis jagat raya. Kekhalifahan manusia, dalam arti sang penakluk vis a vis dengan alam semesta, semakin dikukuhkan. Pembenuman subjek manusia modern sebagai penakluk semesta ini secara implisit telah menggeser supremasi keyakinan teologis atas kemahakuasaan Tuhan dalam relasi-relasi kehidupan. Sebab jika Tuhan sudah terwakilkan, maka secara logis Ia boleh tidak ada dalam penyelenggaraan kehidupan dunia. Artinya manusia menjadi lebih bebas dalam merealisasikan kehidupannya tanpa campur tangan kekuatan lain di luar dirinya sendiri. Gaibnya Tuhan justru berarti kesempatan tak terbatas bagi manusia untuk menghidupi dunia. Manusia modern menjadi subjek yang otonom karena terputusnya rantai ketergantungan sekaligus ancaman keganasan alam raya. Secara sederhana inilah yang menandai mulai datangnya zaman “Pencerahan” (Aufklärung). Satu masa dalam sejarah ketika manusia hendak mengukuhkan klaim dirinya sebagai species yang telah menjadi dewasa dan merdeka, karena telah lepas dari buaian berbagai mitos tentang rahasia dunia, yang membuatnya tidak pernah dewasa. Atau paling tidak, menjadi sadar akan keharusannya untuk memerdekakan diri. Telah datang satu zaman Pencerahan akal budi yang paling gilang gemilang menyinari sejarah peradaban umat manusia.
Menurut Kant:
Enlightenment is man’s emergence from his self-incurred immaturity. Immaturity is the inability to use one’s own understanding without the guidance of another. This immaturity is self-incurred if its cause is not lack of understanding, but lack of resolution and courage to use it without the guidance of another. The motto of enlightenment is therefore: Sapere aude! Have the courage to use your own understanding! (Kant, 1970: 54).
Pencerahan adalah pembebasan manusia dari ketidakdewasaan yang dibuatnya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan untuk mempergunakan pengertiannya sendiri tanpa bimbingan orang lain. Ketidakdewasaan ini dibuatnya sendiri bila penyebabnya bukannya pada kurangnya pikiran melainkan kurangnya ketegasan dan keberanian untuk mempergunakan pikiran itu tanpa bimbingan orang lain. Sapere Aude! Beranilah mempergunakan pikiranmu sendiri! Itulah semboyan pencerahan.
Kant menegaskan, Pencerahan adalah “jalan keluar” yang membebaskan manusia dari situasi ketidakdewasaan, yakni, situasi manusia yang masih menggantungkan dirinya pada otoritas di luar dirinya, yang dengannya ia sendiri merasa bersalah, entah otoritas itu atas nama tradisi, dogma agama, atau pun negara. Pencerahan dapat dikatakan pula sebagai proses penyempurnaan secara kumulatif kualitas subjektivitas dengan segala kemampuan objektif akal budinya dalam mencapai satu tingkatan sosial yang disebut dengan “kemajuan”.
Sebagai ahli waris zaman Renaissance, filsafat zaman modern itu bercorak, “antroposentris” . Manusia menjadi pusat perhatian. Dalam zaman Yunani dan Abad Pertengahan filsafat selalu mencari “substansi”, prinsip induk yang “ada di bawah” seluruh kenyataan. Para filsuf Yunani menemukan unsur-unsur kosmologis sebagai prinsip induk (arché). Bagi pemikir abad Pertengahan, Tuhan sendiri adalah prinsip ini. Namun dalam zaman modern, peranan “substansi” diambil alih oleh manusia sebagai “subjek”. Yang “terletak di bawah” seluruh kenyataan kita, yang memikul kenyataan, itu bukan suatu prinsip di luar kita melainkan kita sendiri. (Hamersma, 1990: 3-4).
Pencerahan dalam wacana filsafat modern, sebenarnya adalah sebuah proses “penyempurnaan” secara kumulatif kualitas subjektivitas dengan segala kemampuan objektif akal budinya dalam mencapai satu tingkatan sosial yang disebut dengan “kemajuan”. Keterputusan dari nilai-nilai mitos, spirit ketuhanan, telah memungkinkan manusia modern untuk mengukir sejarahnya sendiri di dunia – suatu proses self determination.

Periode Modern
Periode ini tidak dapat dilepaskan dari periode sebelumnya, terutama Renaissance, bahkan dalam hal-hal tertentu sulit dibedakan. Periode Modern sebagai zaman keemasan rasionalistik pendewaan terhadap akal pikiran manusia. Akal (rasio) dan pengalaman (empiri) dipakai sebagai sumbu pengetahuan yang secara alami terdapat pada manusia, meskipun terdapat kecenderungan memilih salah satu dari keduanya. Kecenderungan tersebut menimbulkan dua aliran besar yang saling bertentangan, yakni rasionalisme dan empirisme.
Rasionalisme berpendapat akal atau rasio adalah sumber pengetahuan paling memadai dan dapat dipercaya memenuhi syarat umum dan mutlak yang dituntut oleh pengetahuan ilmiah. Akal tidak membutuhkan pengalaman karena pengalaman hanya dapat dipakai untuk menguatkan pengetahuan yang didapat melalui akal. Empirisme berpendapat pengalaman atau empiri, baik batiniah maupun lahiriah adalah sumber pengetahuan. Akal bukan sumber pengetahuan karena hanya mengolah bahan-bahan yang diperoleh pengalaman (Hadiwijono, 1980:18).
Terlepas dari pertentangan kedua aliran di depan, perlu kiranya dilacak bagaimana periode modern muncul. Oleh karena itu, Descartes yang diakui sebagai bapak filsuf modern karena pemikirannya yang brilian dikemukakan lebih detail guna keperluan tersebut. Menurut Descartes, untuk menemukan basis yang kuat dalam berfilsafat, hendaklah orang meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan, termasuk meragukan semua yang dapat dicerap indera. Keraguan muncul disebabkan oleh pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi, dan pengalaman bertemu makhluk halus. Pada keempat kondisi ini seseorang seakan-akan mengalami peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi.
Saya belajar untuk tidak terlalu mempercayai hal-hal yang hendak ditanamkan ke dalam keyakinan saya hanya berdasarkan teladan dan kebiasaan semata-mata. Demikianlah sedikit demi sedikit saya membebaskan diri dari banyak kekeliruan yang dapat mengaburkan cahaya alami kita dan membuat kita kurang mampu memahami kebenaran (Descartes, 1995:11).

Descartes (1995:19) selanjutnya menawarkan empat prinsip agar tepat dalam mengambil keputusan. Pertama, tidak pernah menerima apa pun sebagai benar terkecuali mengetahuinya secara jelas bahwa hal tersebut memang benar. Kedua, memilah satu-persatu yang akan dikaji menjadi bagian-bagian kecil sebanyak mungkin guna memudahkan penyelesainnya. Ketiga, berpikir runtut, mulai dari objek-objek sederhana meningkat sedikit demi sedikit sampai ke masalah paling rumit, jika perlu menata dalam urutan objek-objek yang secara alami tidak berurutan. Keempat, membuat perincian selengkap mungkin dan pemeriksaan menyeluruh sampai tidak ada yang terlupakan.
Apabila orang secara sistematis mencoba meragukan sebanyak mungkin pengetahuannya, orang tersebut akan mencapai titik yang tidak dapat diragukan lagi sehingga pengetahuan dapat dibangun di atas dasar kepastian absolut. Keraguan yang diteruskan sejauh-jauhnya akan membuka tabir sesuatu yang tidak dapat diragukan lagi, jika hal itu memang ada. Menurut Descartes, persoalan dasar filsafat pengetahuan bukan bagaimana manusia dapat tahu, tetapi mengapa manusia dapat membuat kekeliruan. Kekeliruan karena mengira tahu yang tidak diketahui dan tidak tahu apa yang telah diketahui. Itu semua terjadi akibat tidak adanya perhatian yang penuh karena kecurigaan, keangkuhan, emosi, dan sebagainya (Hadi, 1994:29-30).
Descartes berpendapat bahwa yang diketahui pikiran secara langsung tanpa perantara adalah ide-ide. Ide-ide menjadi alat untuk mengenal hal-hal di luar pikiran. Pikiran menemukan dalam dirinya sendiri ide-ide itu sebagai ide-ide yang menampakkan diri dan mencerminkan objek-objek atau sasaran di luar. Ide yang benar-benar jelas dan terpilah-pilah tadi ternyata sesuai dengan yang digambarkan. Bagi Descartes, pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman langsung atas sensasi sifatnya jelas, sebab itu tidak akan pernah keliru jika orang menyetujui atas apa yang ia peroleh sebagai benar dan terpilah-pilah. Ia muncul dalam akal tanpa melalui terangnya refleksi.
Menjawab pertanyaan mengapa kebenaran itu bersifat pasti, Descartes berargumentasi: karena saya itu dengan jelas dan terpilah-pilah (clearly and distinctly). Hanya saya yang mengerti dengan jelas dan terpilah-pilah harus diterima sebagai benar. Apa saja yang diterima dengan jelas dan terpilah-pilah (clearly and distinctly) adalah tiga ide bawaan (innate ideas) yang sudah ada dalam diri manusia sejak ia lahir, yaitu: pemikiran, Tuhan, dan keluasan (Bertens, 2000: 46). Ketiga ide tersebut terdapat pada setiap orang, meskipun pengetahuan setiap orang tidak sama karena ada saja orang yang tidak merawat akalnya dengan baik akibat berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, misalnya karena cacat tubuh maupun karena menjalani kehidupan yang kurang layak.
Kendati Descartes termasuk tokoh rasionalisme, tetapi di lain pihak, sebetulnya dia juga dekat dengan empirisme. Ini terjadi karena rasionalisme berpedoman bahwa sumber pengetahuan adalah akal pikir manusia, sesuai pandangan Descartes bahwa orang harus meninggalkan pola dari luar ke dalam, dan mulai dengan pola dari dalam ke luar (Hadiwijono, 1980:19). Pendapat Descartes yang menyatakan bahwa sensasi langsung yang hadir dalam pengalaman merupakan pengetahuan yang kepastiannya bersipat absolut itulah yang menyebabkan kedekatannya dengan empirisme. Descartes juga beranggapan filsafat klasik terlalu gampang memasukkan penalaran karena itu harus dibuang:
Saya harus menggunakan banyak waktu untuk menyiapkan diri, dengan mencabut dari pikiran saya segala pendapat yang tidak benar yang pernah saya terima sebelumnya, maupun dengan mengumpulkan beberapa pengalaman yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan penalaran saya, dan dengan selalu berlatih menggunakan metode yang telah saya tetapkan bagi diri sendiri agar semakin dikuasai (Descartes, 1995:23).

Pendekatan Descartes terhadap teori pengetahuan itulah yang memainkan peranan penting dalam agenda awal zaman modern. Descartes disebut-sebut sebagai bapak filsafat modern berangkat dari pendapatnya yang berkenaan dengan manusia sebagai subjek berpikir (res cogitans) berhadapan dengan realitas di luar dirinya yang dipikirkan (res extensa).
Menurut Descartes, ada tiga macam objek atau substansi: 1) Tuhan, sebagai substansi abadi; 2) ciptaan Tuhan berupa pikiran; 3) ciptaan Tuhan berupa barang atau tubuh. Manusia termasuk nomor 2 dan 3, karena manusia tahu dan dapat merasakan bahwa ia terkadang ragu-ragu, mengerti, menolak, atau menerima. Kedua substansi ini yang membuat manusia bercampur baur: antara pikiran dan tubuh (Pojman, 1998:257-263).
Manusia juga dapat memikirkan apa yang ada di luar dirinya melalui pengetahuan, sedangkan dunia sebagai objek, baru ada jika dipikirkan oleh subjek yang berpikir itu. Dengan demikian, Tuhan menjadi tersingkirkan dan yang tertinggal cuma hubungan dualisme res cogitans-res extensa sebagai dikotomisasi antara subjek yang otonom dengan “yang lain”. Perantara keduanya adalah ilmu pengetahuan. Manusia menjadi sentral kehidupan, sedangkan alam semesta tempat manusia berada dan yang dipikirkan itu hanya diam apa adanya, tergantung konsepsi yang diberikan manusia terhadapnya.
Selain Descartes, muncul pula tokoh-tokoh dari kedua aliran tersebut, termasuk Thomas Hobbes dan David Hume yang pernah disinggung pada awal bab. Adapun John Locke, seorang empiris yang datang kemudian, menolak keras ajaran tentang innate ideas kaum rasionalis, menurutnya, pikiran ibarat kertas putih dan pengalamanlah yang menjadikannya berwarna-warni. Semua pengetahuan berasal dari pengalaman lahiriah (external sense) dan batiniah (internal sense atau reflexion) yang saling bekerja sama (Hamersma, 1986:19).
Secara garis besar dapat dikatakan kedua aliran ini memiliki pola yang sama, yakni menganut monisme karena realitas ditinjau sebagai sesuatu hal yang tunggal. Meskipun demikian, terdapat perpekstif lain yang menonjol dan membedakan keduanya: Rasionalisme bertumpu pada metode deduksi, sedangkan empirisme pada induksi (Hadiwijono, 2001:18).
Kritisisme yang digulirkan Immanuel Kant (1724-1804) muncul kemudian menengahi perseteruan antara rasionalisme dan empirisme. Menurut Immanuel Kant, baik rasionalisme maupun empirisme berat sebelah: rasionalisme mementingkan anasir a priori dalam pengenalan; empirisme mementingkan anasir a posteriori dalam pengalaman. Tidak salah jika ada yang menyebut temuan Immanuel Kant ini sebagai revolusi Copernican ke-2: jika Copernicus membalik pusat semesta dari bumi ke matahari, maka inti kritisisme Immanuel Kant adalah pembalikan pengenalan dari objek ke subjek. Pemikiran ini menempatkan seluruh pengetahuan dalam kegiatan subjek sehingga terjadi pemisahan antara noumenon (das Ding an Sich) dan phaenomenon (Pranarka, 1987:138). Kritisisme dilanjutkan lebih radikal oleh idealisme yang berpuncak pada Hegel. Bertitik pangkal dari idealisme Hegel, bermunculan berbagai aliran berturut-turut seperti materialisme yang bersifat dialektis, Marxisme, dan kelak pada masa kontemporer muncul aliran seperti fenomenologi, pascastrukturalisme, dan posmodernisme.
Kecenderungan filsafat yang mendasarkan diri pada pengalaman, seperti halnya empirisme pada masa-masa berikutnya berkembang menjadi beberapa pandangan berbeda, yaitu positivisme, materialisme, dan pragmatisme. Positivisme dan materialisme merupakan bentuk paling ekstrem karena memikirkan realitas saja. Ajaran pragmatisme dapat diringkas dalam formula bahwa kebenaran adalah apa yang membawa hasil. Suatu pertimbangan itu benar jika dengan menggunakannya mencapai hasil yang bermanfaat. Pertimbangan itu salah jika dengannya dihasilkan hal yang merugikan (Hadi, 1999:123).
Ilmu pengetahuan sepeninggal Descartes makin mengarah pada sifatnya yang mekanistik dan deterministik, terutama ketika berada di tangan kaum positivisme yang pengaruhnya masih dirasakan hingga masa sekarang. Belum lagi kehadiran ilmu-ilmu fisika yang sudah dirintis pada masa Renaissance, biologi, dan pandangan sejarah gaya baru. Charles Darwin misalnya, banyak memberi pengaruh kepada pengembangan ilmu pengetahuan, terutama pada biologi. Teori evolusi yang diprakarsai Charles Darwin menunjukkan bumi sebagai tempat tertutup selama berabad-abad sebelumnya mulai terbuka menjadi alam semesta tanpa batas. Peristiwa fisik ditentukan oleh alam. Makhluk hidup di muka bumi ini bukan makhluk yang muncul begitu saja atas kehendak Tuhan, tetapi, mengalami evolusi yang sangat panjang (Huijbers, 1992:242-243). Dengan perkataan lain, alam semesta ini sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri tempat dunia ini tidak dianggap lagi sebagai sebuah ciptaan Tuhan yang mengarah kepada suatu tujuan. Itu sebabnya mengapa para ilmuwan yang beriman sekalipun, harus mencampakkan Tuhan dalam karya-karya ilmiah mereka.
Cara berpikir rasional berkembang menjadi aliran positivisme. Positivisme kendati dipopulerkan oleh Auguste Comte, tetapi dirintis oleh gurunya, Saint-Simon (1760-1825). Saint-Simon berpendapat bahwa problem-problem sosial harus diuji oleh metode “positif” atau alamiah, maupun ilmu pengetahuan. Hanya saja, pada saat itu positivisme diasosiasikannya dengan kebangkitan religius, yakni munculnya Neo-Kristianitas (Curtis, 1981:132).
Perkembangan ilmu pengetahuan mencapai bentuknya secara definitif ketika Auguste Comte (1798-1857) dengan grand theory-nya menyampaikan cara berpikir manusia dan masyarakat di tempat manapun akan mengalami tiga tahapan, yakni 1) teologis; 2) metafisis; 3) positif. Pada tahap positif inilah manusia mencapai puncak dengan alasan manusia sudah mampu berpikir secara konkret, eksak, akurat, dan bermanfaat (Wibisono, 1996:15).
Tiga tahapan tersebut berlaku tidak hanya bagi perkembangan ilmu pengetahuan umat manusia tetapi juga berlaku bagi setiap orang: kanak-kanak dalam tahap teologis; remaja dalam tahap metafisis; dewasa dalam tahap positif. Begitu pula terhadap perkembangan tiap-tiap ilmu. Ilmu pengetahuan pada awalnya bersifat teologis, kemudian berubah ke metafisis, dan setelah mengalami beberapa proses mencapai kematangan positif (Bertens, 2000:73).
Aliran ini dinamakan positivisme karena beranggapan yang dapat diselidiki dan dipelajari hanya yang berdasarkan fakta dan data saja. Positivisme berkeyakinan, segala sesuatu yang dapat manusia ketahui adalah apa yang tertangkap oleh pancaindera saja. Manusia mengetahui yang tampak saja; di luar itu manusia tidak perlu mengetahuinya. Positivisme membatasi studinya terhadap gejala-gejala saja.
Positivisme melembagakan pandangan objektivistiknya dalam doktrin kesatuan ilmu pengetahuan (unified science), bahwa seluruh ilmu pengetahuan harus berada di bawah payung paradigma positivistik dengan kriterium sebagai berikut: a) bebas nilai; b) ilmu pengetahuan harus menggunakan verifikasi-empirik; c) bahasa yang digunakan harus analitik, dapat diperiksa secara empirik, atau hanya omong kosong; d) bersifat eksplanasi, hanya melakukan penjelasan berkenaan dengan keteraturan alam semesta. Ilmu pengetahuan tidak menjawab pertanyaan why (kenapa) tetapi menjawab pertanyaan how (bagaimana) (Adian, 2001:35 dan 36). Tidak ada manfaatnya mencari hakikat kenyataan karena dengan berpikir dan bertindak positif orang juga menemukan kebahagiaan.
Positivists then may, more truly than theological believers of whatever creed, regard life as a continuous and earnest act of worship; worship which will elevate and purify our feelings, enlarge and enlighten our thoughts, ennoble and invigorate our actions. It supplies a direct solution is possible, of the great problem of the Middle Age, subordination of politics to morals (Comte, 1981:154).

(Kaum positivisme boleh jadi, lebih bersungguh-sungguh daripada para penganut teologis kepercayaan apapun, menghormati kehidupan terus-menerus dan tekun beribadah; ibadah yang mengangkat-derajat dan mensucikan perasaan kita, memperluas dan melapangkan pikiran kita, memuliakan dan menyegarkan tindakan kita. Ia menyediakan solusi langsung bagi problem gawat Abad Tengah, subordinasi politik menuju moral).

Tidak mengherankan jika positivisme menawarkan semacam agama kemanusian demi memenuhi tuntutan akal dan pandangan positif untuk menggantikan objek penyembahan Tuhan yang disebut Auguste Comte dengan “humanity” (Wibisono, 1996:59-60). Agama baru ini berdiri berdasarkan atas prinsip jiwa sosial dan persaudaraan antar sesama. Positivisme menggabungkan investigasi empiris dengan keyakinan dan kepercayaan, ilmu pengetahuan sosial dengan moralitas, dan keinginan untuk menciptakan pranata rasional masyarakat (Curtis, 1981:133).
Positivisme memandang ilmu pengetahuan hanya satu dan model ilmiah adalah ilmu alam sebab berdasarkan atas pengamatan, alam, dan empiris, bukan diambil dari filsafat atau teks-teks kitab suci. Penganut positivisme percaya, berbagai kaidah alam dapat digunakan untuk mengatur dan mengubah suatu masyarakat. Dengan perkataan lain, pada gilirannya pengetahuan mengenai manusia dan masyarakat yang dikaji ilmu-ilmu humaniora harus mengikuti pola yang sama sebagaimana kajian ilmu-ilmu alam. Begitu pula dengan positivisme logis yang muncul kemudian menyarankan agar hal-hal yang berbau metafisis segera disingkirkan. Itulah sebabnya mengapa determinisme ilmu pengetahuan pada periode ini sangat berkeyakinan bahwa masyarakat akan semakin maju jika menghargai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya.
Pada awal abad ke 20 muncul aliran Neopositivisme sebagai perkembangan lebih lanjut dari aliran Positivisme. Neopositivisme sendiri dikembangkan oleh suatu kelompok yang dinamakan Lingkaran Wina (Vienna Circle), beberapa tokohnya dapat disebutkan misalnya: Moritz Schlik (1882-1936) pendiri Lingkaran Wina yang dikenal pemikirannya dengan mengatakan bahwa tidak adanya kaitan apa pun juga antara ilmu pengetahuan dan perkembangan sosial (Bertens, 1983: 167); Rudolf Carnap (1891-1970), baginya satu-satunya tugas yang masih tinggal bagi filsafat ialah logika, yaitu sebagai penyelidikan logis tentang pengertian-pengertian dan pertimbangan-pertimbangan dari pemakaian bahasa secara ilmu dan secara biasa (Beerling, 1994: 108); dan tentunya Ludwig Wittgenstein (1889-1951), bukunya yang sangat terkenal dan hanya memuat 75 halaman yakni Tractatus Logico Philosophicus juga` sangat berpengaruh dalam pemikiran Lingkaran Wina. Baginya bahasa merupakan suatu gambaran, suatu picture dari kenyataan. Bahasa “memperlihatkan” (shows) artinya. Itu juga berarti bahasa yang tidak merupakan suatu picture, seperti bahasa etika, estetika dan teologi tidak mempunyai arti. (Hamersma, 1990: 138).
Salah satu tema yang menjadi minat besar Lingkaran Wina adalah usaha pencarian garis batas atau demarkasi antara pernyataan yang bermakna (meaningfull), dan yang tidak bermakna (meaningless) berdasarkan kemungkinan untuk diverifikasi. Dalam rangka itu hanya ada dua pertanyaan yang berarti. Pertama, “How do you know?” (lebih dalam yang dimaksud ialah “How do you verify?”), dan Kedua, “What do you mean?” (lebih dalam yang dimaksud berilah uraian atau analisa logis dari pernyataan anda). (Verhaak, 1989: 155).
Ada pun yang dimaksud dengan verifikasi, Beerling menjelaskan sebagai berikut:
Memverifikasi berarti membuktikan, menguji. Ilmu mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang bersangkutan satu sama lain. Pernyataan-pernyataan itu harus mempunyai arti, harus mempunyai makna tertentu. Dari mana diperoleh arti itu? Dari pengalaman, jawab kaum Neopositivisme. Arti suatu pernyataan adalah sama dengan metode, dan menurutnya pernyataan itu diverifikasi atau dapat diverifikasi, dibuktikan atau diuji. Dan itu menurut Neopositivisme selalu berarti (pada asasnya) dibuktikan dengan pengalaman. Jadi suatu pernyataan hanya baru mempunyai makna, jika pada asasnya dapat diverifikasi, tidak mempunyai makna. (Beerling, 1994: 106).
Sebagai penutup dari perkembangan pemikiran modern ini maka dapat dikatakan karakter yang khas dalam modernisme adalah, bahwa selalu berusaha mencari dasar segala pengetahuan (epistemé, Wissenchaft) tentang “apa”nya (ta onta) realitas, dengan cara kembali ke subjek yang mengetahui itu sendiri (dipahami secara psikologis maupun transendental). Di sana diharap ditemukan kepastian mendasar bagi pengetahuan tentang realitas, realitas yang biasanya dibayangkan sebagai “realitas luar”. Kepastian itu persisnya terdapat dalam hukum logika. Jadi kalau saja bisa diorganisasikan gagasan-gagasan secara logis tepat, maka langsung pula didapatkan “representasi” yang benar atau keserupaan “objektif” dengan kenyataan. Demikian Fondasionalisme (Foundationalism) dan “Representasionalisme” telah menjadi sebutan bagi paham yang berkembang sejak Descartes hingga filsafat analitik abad keduapuluh. (Sugiharto, 1996: 33).
Ada pun yang dimaksud dengan Fondasionalisme, seperti yang dikemukakan oleh J. Sudarminta adalah:
Teori pembenaran yang menyatakan bahwa suatu klaim kebenaran pengetahuan untuk dapat dipertanggungjawabkan secara rasional perlu didasarkan atas basis yang kokoh, yang jelas dengan sendirinya, tak dapat diragukan kebenarannya dan tak memerlukan koreksi lebih lanjut. (Sudarminta, 2002: 138).

Fondasionalisme meyakini bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan langsung dan tak dapat diragukan tentang prinsip-prinsip pertama atau proposisi dasar tersebut (entah itu dalam bentuk intuisi akal budi atau dalam bentuk persepsi inderawi). Keduanya menjadi fondasi bagi kebenaran-kebenaran lain yang dapat diturunkan atau dideduksikan daripadanya. Menurut para fondasionalis, pembenaran pengetahuan berstruktur hirarkis. Beberapa kepercayaan dasar dimengerti sebagai sudah jelas dengan sendirinya, sehingga tidak memerlukan pembenaran lain. Sedangkan kepercayaan-kepercayaan yang lainnya hanya bisa dibenarkan berdasarkan kepercayaan dasar tersebut sebagai fondasinya. (Sudarminta, 2002: 138)
Pada fase berikutnya muncul pemikiran-pemikiran yang mulai kritis terhadap rasionalitas modern. Mereka mulai kritis terhadap rasionalitas modern atau bahkan kecewa terhadap rasionalitas modern pada masa itu yang dianggap kehilangan sifat kritisnya. Artinya, rasionalitas modern sudah melenceng dari semangat Pencerahan. Seperti ditunjukkan oleh Horkheimer dan Ardorno dalam Dialektik der Aufklarüng dan Marcuse dalam One-Dimentional Man, proses rasionalisasi masyarakat ternyata bermuara ke dalam tragedi agung. Mendewakan rasionalitas yang semula dikira memberi otonomi dan kebebasan, manusia modern justru terperangkap dalam sistem tertutup yang justru irasional dan hampa makna. Dalam kondisi demikian, tidak ada ruang sedikit pun bagi kritik kecuali bahwa kritik itu sendiri pasti ikut memperkuat sistem. Dalam masyarakat modern seperti ini, segala kontradiksi, penindasan, frustasi dan alienasi tidak lagi tampak. Seakan-akan semua aspek kehidupan berjalan lancar, efisien, produktif, dan berdaya guna. Padahal yang sebenarnya berlangsung adalah proses dehumanisasi. Ketika kritik hendak bekerja menyingkap kesan-kesan semua itu, ia segera mendapati kenyataan bahwa sistem yang irasional itu justru malah merupakan akibat usaha manusia untuk bersikap rasional. Rasionalitas yang semula sangat kritis terhadap mitos-mitos tradisional pada gilirannya justru berubah menjadi mitos baru dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi. (Suseno, 1983: xix-xx).
Pada titik yang lebih ekstrim, kritik terhadap modernisme memunculkan apa yang disebut dengan postmodernisme. Tokoh-tokoh dalam aliran ini cenderung hendak mengatasi gambaran dunia (worldview) modern. Strategi yang digunakan adalah dekonstruksi, strategi ini dimaksudkan untuk mencegah kecenderungan totalitarianisme pada segala sistem. Dapat dikatakan, bahwa mereka ini menarik segala premis modern dan membenturkannya pada konsekuensi logis paling ekstrimnya. Beberapa tokohnya, misalnya: Derrida, Lyotard dan Foucault. (Sugiharto, 1996: 30).


1 Response to “Historisitas Filsafat Ilmu: Jejak Langkah Pemikiran Dari Era Yunani Hingga Postmodernisme”


  1. April 15, 2014 at 5:15 pm

    We’re a group of volunteers and starting a brand new scheme in our community.
    Your website provided us with valuable info to work on.
    You have performed an impressive activity and our whole
    community will probably be grateful to you.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: